LIFE: I’m a Loner but not a Lonely Person

image

Seperti yang terlihat di blog ini, saya sering ke mana-mana sendirian, kuliner sendirian, belanja-belanja sendirian, dan aktivitas sendirian lainnya. Kalau weekend dan saya pergi-pergi, Mama pasti nanya perginya sama siapa dan saya jawab sendirian, lalu saya diberi tatapan ‘ckckck, dasar anak yang aneh.’

Continue reading LIFE: I’m a Loner but not a Lonely Person

LIFE: Life Keep on Turning

We’ve come to the final story
All of it has passed behind me
With my smile and now I’m ready
For my next step again

I know I can’t drown forever
I’ve got a life I have to deal with
I believe that life keeps turning
And I’m here just to wait and sing
Yes, I’m here just to wait and sing….

Loosing you is not the end of the world
But it’s, true that is definitely hurts
That is definitely hurts!

When I wake up in the morning
One smile wipes away my yearning
A messages has come arriving
Secret admirer strikes again
And this life keeps on turning

😀

Hffft… Hari ini saya menggila. Gak cuma saya sih, dia juga..
Kali ini harus bener-bener reset. Reset atau format? Ah, sembarang!
Kali ini harus konsisten nih, soalnya saya yang memutuskan, huhuhu..
Mencinta dan dicintai memang rumit dan bikin saya kapok.
Tapi ya sudahlah, life must go on..

PS: this is the end of “Tiga Kata” & “16 Hari

LIFE: Memutar Sekrup

Salah satu hal yang berkesan dari Norwegian Wood adalah istilah memutar sekrup. Di novel tersebut tidak dijelaskan secara gamblang apa yang dimaksud dengan memutar sekrup. Jadi pembaca pasti punya interpretasinya sendiri-sendiri. Dan beginilah interpretasi saya…

Saya bayangkan hidup seperti sebuah rangkaian yang bagian-bagiannya disatukan dan dikencangkan dengan sekrup. Seiring berjalannya waktu, sekrup-sekrup itu akan longgar, sehingga rangkaian kehidupan tidak berjalan dengan efektif. Seperti jam dinding tanpa batre yang ada di rumah Mbah Kung saya, supaya jam bisa berdetak dengan ritme yang sesuai dan selalu menunjukkan waktu yang pas, Mbah Kung harus rutin memutar kunci-kunci di jam tersebut terkadang meminyakinya. Suka atau tidak suka, untuk dapat penunjuk waktu yang mumpuni, Mbah Kung harus melakukan rutinitas itu.

Continue reading LIFE: Memutar Sekrup

LIFE: Switch Off

Selain bisa belajar karakter orang dari jalanan, nyetir mobil sendiri bisa bikin belajar mengontrol mood.

image

Di jalan khususnya di Jakarta, menyerempet diserempet sudah seperti makanan sehari-hari. Dulu, setiap saya terkena tragedi, butuh waktu lama untuk recovery mood-nya bahkan kejadian di pagi hari mempengaruhi mood hingga sore hari. Sehingga pernah di satu hari saya mengalami dua tragedi, pagi dan sore karena kurang konsentrasi.

Seiring berjalannya waktu, saya pun menjadi desensitif terhadap kejadian di jalan karena kalau saya nyetir dalam keadaan marah atau bad mood pasti akan mempengaruhi konsentrasi saya saat itu. Akhirnya saya belajar untuk cepat mematikan rasa marah supaya bisa kembali enjoy nyetir lagi.

Misalnya saya diserempet dan males juga nambah keribetan di jalan, ya sudah segera maafkan dan lupakan. Tapi ada kalanya saya juga melakukan kesalahan, ya saya harus juga cepat memaafkan diri saya. Setelah plong, saya pun konsentrasi nyetir lagi.

Selain di jalan, hal ini ternyata bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Misalnya saat hari senin kemarin, saya makan tongseng bakar di Burger & Grill. Saat memotong dagingnya pake sendok, eh sendok saya kepleset ngenain mangkok sambal hingga loncat ke arah saya, sambal pun membasahi kerudung & baju saya. Suuuuuper messy!!!

Tapi ya mau gimana lagi, gak ada juga yang bisa disalahkan, saya lalu cepet-cepet bersihin sedikit kerudung dan baju sambil matiin bad mood. Selanjutnya ya lanjutin makan, lha wong enak. Setelah dapet tissue basah, saya lap-lap lagi, bercak-bercak cabe udah hilang tapi masih basah dan gak nyaman. Lalu saya ke toilet untuk mengeringkan kerudung pake hand dryer. Problem solved! Mood terjaga dan saya punya pengalaman baru.

Nyetir mobil bisa melatih saya men-switch off badmood dengan lebih cepat bahkan saat di luar setir.
Kalau kamu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengubah bad mood menjadi good mood?

image

LIFE: Belajar Karakter Orang Dari Jalanan

Hhhmmm…
Karena saya masih newbie dalam urusan menyetir, tentunya banyak pengalaman-pengalaman baru yang saya alami. Rasanya pengen ceritain semuanya di sini, tapi takut spamming post tentang mobiiiil mulu. Hihihi… Cuman ya yang ini tuh EPIK banget!! Sayang aja kalau gak di-share.. ╮(╯▽╰)╭

Mari kita mulai kisahnya….

Kisahnya ini terjadi deket buanget ma rumah Mbah Uti (di suruh Papa ke Pondok Kelapa dulu). Hhmmm, karena susah nyeritain pake kata-kata, saya kasih gambar aja ya…

image

Untuk ke rumah Mbah Uti, saya butuh belok ke kanan. Karena dari arah berlawanan saya anggap aman, dari jauh, saya sudah sen kanan & ambil jalur yang berlawanan.

Mobil saya: mobil polisi kecil yang lagi “sen kanan” ⇨ IRL: Splash merah.
Mobil dia: mobil polisi besar ⇨ IRL: APV silver.

image

Setelah saya meng-kanan, ternyata dari arah berlawanan ada mobil yang baru belok. Saya santai aja karena dia harusnya tau kalau saya mau belok & mau lah dia berbaik hati untuk berhenti sejenak mempersilahkan saya belok. #Pikirsaya

image

Ternyata, beberapa saat kemudian dia nge-beam saya. Saya tau dia minta saya ngalah, tapi saya harus gimana? Belokannya udah deket banget. Saya lalu mengabaikan beam dari dia & bersiap-siap untuk belok, salah satunya dengan memperlambat kecepatan.

image

And then, suatu yang tak terduga terjadi, dia langsung ngebut & mepetin mobil saya. Uwoooo gimana saya beloknya?? Jalanannya terobstruksi sama dia!!! Dia niat banget mojokin saya, sampai ada space sedikit langsung dia isi!! Aigooo!!!!

Di moment ini, saya bingung apa yang harus dilakukan. Belok kanan udah pasti gak bisa. Langsung banting kiri? Juga gak cukup karena dia mepetin mobil saya dengan niatnya. Mau ngejelasin kalau saya mau belok? Saya capek. Mau nge-klakson? Saya paling sebel sama suara klakson kalau gak darurat. Mau gak mau, saya mengalah mundur walau rasanya suebellll banget!!!! Udah capek fisik dapet cobaan begitu pula.. grrr…

image

Sebel.. sebel.. sebel.. belok kanan yang harusnya simple malah jadi rempong banget… Grrr…

Saya gak ngerti dia maksudnya apa. Mau kenalan karena saya oke? Gak mungkin, orang mobil saya gelap banget. Atau mau kopi darat sama saya karena lihat Splash merah dengan plat nomer B187JUS? Saya yakin gak ada blogger yang seniat itu, hehehe. Apa karena dia pikir saya ambil jalur dia karena pengen nyalip bukan belok? Mungkin. Dan yang pasti sih dia EGOIS!!!

Pas di rumah Bekasi, saya lalu cerita ke Mama. Saya bingung, kok ada sih orang se-EGOIS itu!!! Grrr….

Dan jawaban Mama adalah itulah alasannya saya dibeliin mobil kalem. Supaya saya bisa kena ‘cobaan’ yang seperti ini, supaya saya bisa ketemu berbagai macam karakter orang. Karena di luar orang-orang tingkahnya bisa macem-macem dari super baik hingga super nyebelin dan saya harus bisa berinteraksi dengan mereka. Dan inilah dunia nyata.

Kaget saya denger alasan Mama.. Ternyata Mama rela merogoh uang segitu banyak untuk melatih mental saya, huks terharu… ╯︿╰

image

LIFE: Question

jny

Kemarin, seseorang menanyakan sesuatu kepada saya…

“Kamu kebayang apa sih mengenai kamu sewaktu tua?”

Dan saya belum jawab,
Saya hanya tanya ke dia, “Tuanya seumur berapa?”
Dia jawab 56 tahun ⇨ ±30 tahun lagi..

Saya masih belum kebayang, 30 tahun lagi akan menjadi seperti apa, hhmm.. Masih clueless.. Cara gampang jawab pertanyaan itu adalah dengan berandai-andai misalnya punya uang banyak, rumah mewah, mobil keren, dan lainnya.. Tapi menurut saya jawaban dari pertanyaan itu bisa lebih serius dari berandai-andai dan sebenernya sebelum seseorang tanya itu, saya sudah memikirkannya, hehehe..

30 tahun lagi akan seperti apa saya??
Apa yang akan terjadi di esok hari, tahun depan atau 30 tahun lagi itu ditentukan oleh apa yang saya lakukan hari ini atau sekarang ini.. Kalau liat life style saya tetap seperti sekarang ini mungkin 30 tahun lagi saya akan dalam keadaan..

MENYESAL

Menyesal karena banyak menunda-nunda sehingga melewatkan banyak kesempatan.. Semakin lama saya menunda, semakin banyak kesempatan yang saya lewatkan dan semakin besar pula penyesalan yang akan saya rasakan. Selain itu, mungkin saya akan menyesal karena saya selalu berkeluh kesah khususnya di dalam keluarga, saya sering merasa gak bahagia saat di rumah. Saya tau kebahagian itu diciptakan oleh diri kita sendiri. The grass is greener on the other side & the map is not the teritory ⇨ ubah cara berpikir lalu kenyataan akan mengikuti pikiran kita. Tapi sekarang saya terlalu malas untuk melakukan itu.

Di balik itu, kemungkinan ada 1 keuntungan dari life style saya sekarang ini karena saya mendokumentasikan hidup dengan cukup baik, kalau sampai 30 tahun ke depan saya masih nulis diary dan nge-blog, saya bisa punya autobiografi yang mantab!! 🙂

Usia 50 tahunan, seharusnya seseorang dalam keadaan yang penuh dengan pengalaman hidup, kebijaksanaan dan kebahagiaan. Tapi gak jarang saya menemukan seseorang di usia tua dengan menyedihkan seperti di telantarkan oleh keluarganya, sakit-sakitan, terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia, terjebak hutang, dan sebagainya. I don’t want to be like that!

Saya gak mau melewati masa tua dengan penyesalan!! Jadi harus direncanakan, diantisipasi dari SEKARANG! Ya SEKARANG!

Saya harus merencanakan dan bertindak dari sekarang supaya di usia 50 tahunan saya dalam keadaan:

  • Dekat dengan Allah, no futur anymore
  • Sudah naik haji
  • Sehat!
  • Skill dokter gigi masih baik
  • Punya keluarga yang bahagia ⇨ akrab & dekat dengan anak dan cucu 🙂
  • Hidup berkecukupan walau sederhana
  • Punya rumah yang asri dan indah

BISAKAH?
PASTI BISA!!
asal
berusaha diwujudkan
DARI SEKARANG!!

<

p style=”text-align:center;”>Photobucket