Tag Archives: diary

Diary Digital

Jika waktu leluasa, inginku selalu menuliskan apa yang terjadi sehari-hari dalam sebuah jurnal atau diary supaya bisa aku baca-baca ulang di kemudian hari. Idealnya nulis dengan tangan di kertas supaya sambil nulis sambil jadi terapi, tapi pakai diary jadi gak berasa aman apalagi di masa aku sudah tidak kuasa lagi dengan barang-barang yang aku punya. Aku juga ingin bisa akses apa yang pernah aku tulis kapan aja di mana aja, oleh karena itu aku juga pakai diary digital.

Continue reading Diary Digital

Bullet Journal Tertua Nita, sejak 2005

Bullet journal menjadi trend beberapa tahun ini walau bullet journal yang nge-trend itu lebih seperti DIY journal daripada bullet journal seperti yang dimaksud oleh Ryder Caroll di blog dan bukunya. Saat nostalgia dengan jurnal-jurnal lamaku, aku jadi sadar bahwa bullet journal yang nge-trend itu sudah kulakukan sejak dulu kala. Hohoho..

Continue reading Bullet Journal Tertua Nita, sejak 2005

Manfaat Menulis Jurnal atau Diary Lebih dari 15 Tahun

My Diaries

Tahun 2020 merupakan tanda kalau aku sudah 15 tahun lebih menulis keseharian di Diary. On-off tentu saja, karena ada masa-masa di mana aku sangat sibuk (pas kuliah) dan ada pula masa diary digantikan oleh blog dan media sosial. Tapi aku selalu punya diary, seperti sekarang walau diary-ku bukan dalam bentuk buku lagi melainkan tertulis di Ipad (lebih menjaga privacy).

Continue reading Manfaat Menulis Jurnal atau Diary Lebih dari 15 Tahun

[About Me]

jny

Pas SMA, saya suka minta opini atau kesan tentang diri saya dengan cara mereka menulis di binder saya, iseng aja, cuma untuk pengen tau apa yang mereka pikirkan tentang saya. Lumayan banyak yang nulis di sini dan saya lakukan ini mulai dari kelas 1 sampe kelas 3, tapi gak semua anak saya minta, hanya yang kira-kira mau dan yang kemungkinan akan menulis hal positif tentang saya saja yang saya minta 🙂

jnyjnyjnyjnyjnyjnyjnyjnyjnyjnyjnyjnyjnyjnyjny

Seru baca ulang ini lagi, yang cowok isi tulisannya singkat-singkat, yang cewek biasanya panjang dan dihias-hias. Walau udah diseleksi orang-orang yang nulis disini, tetep aja ada komentar negatif seperti sering telat, jutek, dsb, dan sampe sekarang juga belom berubah, hiks. Pas kuliah, udah gak minta beginian lagi ke temen, udah gak jamannya.. So, kertas binder saya bundel, di kasih cover seadanya dan dikumpulkan bersama diary-diary lama 🙂

Photobucket

BLOGZONE: Diary vs Blog

Terinspirasi dari postingan Menulis di Blog vs Buku Diary.. Saya jadi pengen melakukan hal yang sama dengan opini saya tentunya, saya nyontek poin-poinnya dan menambah poin-poin lainnya..

Cepatnya menulis
Diary ⇨ Lama & pegel… Apalagi kalau pulpennya keset…
Blog ⇨ Cepet!! Tapi kemeng juga klo kebanyakan ngetik, hehe… Ngetiknya cepet, tapi pas mau di-post kan dibaca-baca lagi & diedit-edit lagi, lalu diliat preview-nya.. Jadi lama deh..
Kesimpulan: Diary < Blog

Privacy
Diary ⇨ Bisa lebih bebas untuk curhat-curhat galau..
Blog ⇨ Kalau mau curhat galau harus mikir-mikir panjang kecuali kalau post itu emang buat di-privat & hanya beberapa orang yang boleh baca..
Kesimpulan: Diary >>> Blog

Kepraktisan
Diary ⇨ Biasanya diary ditaruh di rumah, jarang dibawa-bawa.. Jadi kalau mau curhat tiba-tiba gak bisa langsung nulis..
Blog ⇨ Bisa nulis dimana aja!! Pake hp bisa, pake laptop bisa, pake tablet pc juga bisa.. Asal punya, hehe..
Kesimpulan: Diary << Blog

Visualisasi
Diary ⇨ Supaya visualisasinya bagus, harus lebih niat untuk ngehias2, pake spidol atau pensil warna atau pake stiker & foto.. Mayoritas isi diary saya polos-polos aja, tapi kalau ada yang banyak hiasannya jadi lebih berkesan 🙂
Blog ⇨ Lebih mudah untuk ngehias-hias..
Kesimpulan: Diary < Blog

Biaya
Diary ⇨ Harus menyediakan uang 20-100 ribu (tergantung kelucuan & keunikan diary) untuk minimal 3 bulan. Dan bagi saya, ada keseruan tersendiri saat menentukan macam diary apa yang akan saya gunakan selanjutnya.
Blog ⇨ Walau gak nge-blog kayak hampir semua orang menyediakan biaya untuk internetan atau nyari internet gratisan dengan wi-fi.. Kecuali masih mengandalkan warnet, biaya untuk nge-blog bisa dibilang: free (gak termasuk kalo beli domain yah)
Kesimpulan: Diary = Blog

Keamanan
Diary ⇨ Harus pinter ngumpetin diary dari tangan-tangan usil, hehe ⇨ beresiko dibaca orang..
Blog ⇨ Mengandalkan penyedia layanan blog atau harus rutin mem-back-up ⇨ beresiko ilang kalau penyedia blog-nya tiba-tiba eror..
Kesimpulan: Diary = Blog (setiap cara punya resiko masing-masing)

Nilai Kenangan
Diary ⇨ Baca diary yang udah lama itu berkesan banget!!! Bisa dari tulisannya, ilustrasi-ilustrasi yang dibuat, doodle-doodle gagal, sampe tempelan tiket, undangan atau voucher bisa jadi sesuatu yang sangat memorable..
Blog ⇨ Mau dari jebot sampe nanti-nanti tampilannya sama aja.. Cukup memorable apalagi kalau berisi foto-foto yang berkesan. Keuntungannya, gampang di-search kalau pengen mengingat suatu moment.
Kesimpulan: Diary = Blog

Sharing Informasi
Diary ⇨ Diary bersama mungkin bisa..
Blog ⇨ Bisa sharing informasi bagi siapa saja yang membutuhkan..
Kesimpulan: Diary < Blog (mau gak mau)

Bagi saya yang sudah 9 tahun nulis diary (Sejak tahun 2002) dan hampir 2 tahun nge-blog (sejak februari 2010-kalau blog di blogspot diitung), blog & diary punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri sehingga daripada memilih salah satu mendingan meng-combine-nya.. Hehe..

Pakai diary untuk… Cerita keadaan sehari-hari, dari yang gak penting sampe yang penting, mencurahkan perasaan & galau-galau yang sifatnya rahasia & terlalu labil kalo ditulis di blog, mencatat to do list, bikin draft tulisan, nempel-nempelin tiket, kartu, dsb..

Pakai blog untuk… Sharing tulisan yang bertema & (belom tentu) layak untuk dibaca orang lain, sebagai visual diary, sebagai highlight dari pikiran & kegiatan sehari-hari saya, flashback ke masa lalu (via foto), untuk share gambar-gambar, quote dan cerita yang mengena di hati.

*Cheers*

<

p style=”text-align:center;”>Photobucket