Manfaat Menulis Jurnal atau Diary Lebih dari 15 Tahun

My Diaries

Tahun 2020 merupakan tanda kalau aku sudah 15 tahun lebih menulis keseharian di Diary. On-off tentu saja, karena ada masa-masa di mana aku sangat sibuk (pas kuliah) dan ada pula masa diary digantikan oleh blog dan media sosial. Tapi aku selalu punya diary, seperti sekarang walau diary-ku bukan dalam bentuk buku lagi melainkan tertulis di Ipad (lebih menjaga privacy).

Asal Mula Menulis Diary…

Pertama kali berniat untuk menulis keseharian di Diary karena hal itu nampak sebagai suatu hal yang romantis. Hahaha, jaman dulu tuh banyak sinetron atau cerpen yang kisahnya anak perempuan menulis diary. Yang kurasakan saat itu ternyata menulis diary tidak semenyenangkan yang dibayangkan, kebanyakan tulisanku adalah: bingung mau cerita apa lagi. Akhirnya tidak kulanjutkan lagi.

Inspirasi dari The Princess Diaries…

Pas aku SMA, novel The Princess Diaries lagi booming dan difilmkan. Aku lalu baca novelnya dan suka banget! Hal yang jadi fokusku bukan tentang Mia Thermopolis yang dalam sekejap menjadi pewaris tahta kerajaan, tapi tentang apa-apa aja yang dia tuliskan. Dari melihat apa yang Mia tuliskan, aku gak bingung lagi mau nulis apa aja di Diary. Hahaha, semuanya aku tulis termasuk jadwal dan sedikit pelajaran, akhirnya malah jadi seperti bullet journal!

Jadi manfaat yang kurasakan apa aja??

Membantu mengartikulasikan apa yang ada di pikiran. Di rumah aku sempat jadi anak dan cucu satu-satunya selama 8 tahun. Karena menjadi pusat perhatian, saat aku sedikit gelisah, orang di sekitarku langsung sigap menawarkan solusi. Namun beranjak besar, orang lain tidak akan melakukan hal itu lagi, akhirnya rasa gelisahku tidak terpecahkan. Jadi hari-hariku sering terisi dengan nge-grundel di dalam hati.

Dengan menuliskan apa yang ada di pikiranku aku jadi akhirnya bisa apa yang aku pikirkan, apa yang menjadi masalah, apa solusinya, dan bagaimana mengutarakannya kepada orang lain. Setelah itu derajat moody-ku jadi lumayan berkurang.

Menjadi lebih fokus. Aku menuliskan goal-ku di diary dan juga menuliskan agendaku di sana. Setiap hari rutin dibuka dan dibaca ulang, akhirnya tertanam di pikiran. Di buku diary-ku tahun 2005 isinya mayoritas tentang persiapan Ujian Nasional dan SPMB, jadwal belajar, hasil try-out, dan sebagainya. Alhamdulillah di hari Jumat, 5 Agustus 2005 aku bisa dapat hasil yang kuinginkan, masuk FKG UI.

Merapikan isi otak. Kalau ada yang tanya kenapa aku suka menulis dan ingin mendapatkan jawaban yang singkat, jawabanku adalah menulis bisa merapikan isi otak. Aku termasuk orang yang di keseharian banyak mikir, bisa macam-macam topik yang ada di pikiran. Menulis itu membantu banget aku mengorganisir yang ada di otak dan setelah dituliskan langsung terasa entengnya.

Membantu memecahkan masalah. Suatu masalah kalau kita pikirkan aja seringnya malah bikin makin ruwet. Menuliskannya bisa membantu kita untuk melihat gambaran besar, garis merahnya, lalu menuntun kita pada pemecahan masalah.

Sebagai penyimpan memori. Kemampuan mengingat manusia itu terbatas. Pas sampai di rumah sepulang praktek aku sudah bisa lupa pasien apa saja yang aku tangani di hari itu. Menuliskan keseharian di diary (yang penting-penting saja) bisa bantu kita untuk ingat akan sesuatu. Poin yang ini punya kelebihan dan kekurangan, kadang kita bisa ingat hal-hal yang menyakitkan. Huhu..

Membantu untuk refleksi diri. Menulis jurnal dan membacanya kembali, bisa membantu kita untuk melihat diri kita yang sudah lampau, bahkan hingga 15 tahun yang lalu. Membandingkan diri kita yang sekarang dengan yang dulu pasti ada kemajuannya walau sedikit dan hal itu patut diapresiasi. Kita jadi bisa lebih mengenal diri kita dan menghargai apa saja yang kita lalui, baik suka maupun dukanya.

Membandingkan diri kita yang sekarang dan yang masa lampau juga berpotensi bikin down sih kalau kita dalam titik terendah dalam hidup. Tapi insyaa Allah akan dilalui dan kita yang di masa depan akan mengapresiasi kita yang di saat ini atas apa yang kita lalui. Yang pasti sih membandingkan diri kita sendiri itu lebih baik dari pada membandingkan kondisi diri kita dengan orang lain yang nampak di media sosial.

Menulis sebagai katarsis. Katarsis atau Catharsis adalah istilah psikologi yang artinya “emotional cleansing”. Katarsis ini bisa dalam bentuk apa saja, seperti melukis, doodling, mewarnai, berbicara, berlari, dan sebagainya. Pokoknya segala aktivitas yang fungsinya bisa meluapkan emosi adalah katarsis.

Setiap orang ada masa-masa terendahnya dalam hidup, aku pun begitu. Saat butuh bantuan profesional, janganlah ragu untuk konsultasi. Saat sudah terkendali, bisa pakai menulis sebagai terapi emosi. Prosesnya tetap butuh waktu, tidak seperti sulap dan setiap orang akan melewati proses yang berbeda-beda. Dari pengalamanku, menurutku efektif, lebih efektif daripada menceritakannya ke orang lain dan mendapatkan masukan yang malah suka bikin bingung.

Jadi setelah lebih dari 15 tahun menulis Jurnal atau Diary??

Aku merasakan menuliskan keseharian dan apa yang ada di pikiran itu menghasilkan banyak manfaat dan akan selalu berusaha komitmen ke depannya. Mau pakai kertas atau digital, tulisan tangan akan jadi prioritas. Dari bentuk tulisan tangan kita seperti huruf besar dan kecilnya, tegak atau sambung, rapi atau berantakan, akan menunjukkan kondisi emosi kita pada saat itu, kita akan bisa melihat lebih dari apa yang kita tuliskan.

Kamu suka nulis jurnal atau diary juga? Sejak kapan? Pakai media apa? 🙂

23 thoughts on “Manfaat Menulis Jurnal atau Diary Lebih dari 15 Tahun”

  1. Nita, waktu lockdown pertama kemarin di sini ada journal project. Pemerintah lokal kasih journal ke beberapa orang supaya bisa tahu apa yang terjadi. Terus journal-journal itu dimasukkan ke arsip.

    Menulis jurnal itu menyenangkan, selain untuk refleksi dan melatih otak, kita juga jadi tahu kemampuan menulis kita itu semakin lama semakin berkembang, begitu juga dengan pola pikir kita.

    1. Kreatif juga pemerintahnya ya Mbak.. kalau orang di sana masih mau merelakan waktunya untuk nulis begitu.. Kalau programnya dilakuin di sini paling cuma dibawa pulang jurnalnya trus lupa deh tugasnya apa.. Baca aja udah pada males banget apalagi nulis..

  2. Ijin komen, aku menulis sejak 2014 di buku nulis manual hingga saat ini masih nulis buku manual, kalau di hp rasanya kurang privasi aja, nah selama enam tahun ini manfaat yang kamu tulis juga saya rasakan sendiri, tetapi efeknya lemari ku jadi penuh sama buku agenda atau buku harian, yang mana bertumpuk-tumpuk menjadi berpuluh puluh buku harian karena dalam satu hari bisa nulis sampai empat lembar banyaknya kalau emang yang dicurhatin lagi banyak

    1. Buku hariannya diumbar aja atau disimpan di tempat rahasia skrg??? Ngeliat buku yang menebal dan keriting itu salah satu yang menyenangkan!!

  3. Nita, aku kemarin baru nulis tentang journaling juga lho di blogku. 😁😁 koq bisa samaan ya bahas tentang topik ini 😁😁

    aku setuju dgn semua manfaat yang kamu sebutin di atas. 😊 Aku sempat nulis jurnal pake leptop karna kayaknya yang ditulis bisa banyak dlm waktu relatif singkat. Beda dgn kalo nulis pake pena, agak lambat. Tapi kemudian aku dapet info bahwa di jari2 yg kita pake utk nulis itu, terdapat saraf yg berhubungan dgn otak, yg akan memberikan sensasi menyenangkan sewaktu jari2 tsb digunakan menulis (kalo ga salah gitu deh penjelasannya). Jadi aku kembali nulis jurnal pake pena & kertas. Biarpun agak lambat tapi manfaatnya terbukti manjur koq. 😁😁

  4. Punya blog privat buat nulis jurnal, tapi ga konsisten nulisnya, biasanya kalau lagi mumet banget dijadiin tempat sampah. Bahasanya campur Indonesia, Inggris, Sunda dan banyak kata2 kasarnya hehe. Yg penting fungsi katarsisnya terpenuhi.

    Sering kalau udah dituliskan, jadi mikir masalah yg sedang kita dihadapi sebenarnya ga sulit2 amat buat diatasi.

    1. Ada yang disimpan dan ada yang dihancurkan.. Misalnya yang 2015, akhirnya aku hancurkan krn isinya kacau balau.. Tp sebelum dihancurkan aku scan dulu.. Alasan knp dihancurkan krn diary kan bakal akan tetap ada saat aku tiada, yg tetap kusimpan yang itungannya aman kalau dibaca orang lain.

  5. aku pun sampai sekarang masih menulis diari dan jurnal Mbak Nita dan masih pakai cara konvensional alias nulis di buku. aku kayaknya nulis diari gini mulai dari SD kelas 5an sampai sekarang. Cuma diari-diariku yang dulu sudah kuhempaskan :))) . Tinggallah jurnal dari enam tahun terakhir kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.