Journal, life

LIFE: Karena Saya Cuma Satu

Suka sadar gak kalau manusia suka mengelompokkan dirinya sendiri? Ada yang berdasarkan klasifikasinya Dale Carnegie (koleris, plegmatis, sanguinis, dan melankolis.. Kata Mas Iwan klasifikasi ini dar Florence Littauer, tp saya bacanya dari buku Carnegie), ada yang dengan kelompok introvert dan ekstrovert, berdasarkan golongan darah (A, B, O, dan AB mungkin juga bisa berdasarkan rhesus positif atau negatifnya, hehe), bahkan ada yang menggunakan zodiak (12 zodiak itu lah, atau udah beneran jadi 13?).

Saya tidak suka mengelompokkan diri sendiri dalam kotak-kotak itu. Karena menurut saya karakter kita gak sesederhana itu apalagi yang menghubungkan karakter dengan golongan darah dan zodiak yang gak masuk logika. Untuk selanjutnya saya membicarakan yang dari hasil tes aja.

Lalu kenapa bisa terasa cocok?
Itulah kelemahan otak kita, sangat mudah tersugesti. Diri kita terdiri dari berbagai sifat, ada yang kuat dan ada yang lemah. Saat kita baca suatu hasil tes, kalau kita percaya, pasti rasanya cocok. Jika yang tercantum merupakan sifat yang kita sadari responnya pasti ‘ih gue banget‘. Kalau ternyata yang tercantum belum kita sadari responnya bisa ‘ternyata gue begini ya, karena tes ini gue jadi tau‘. Dan selanjutnya kita merasa mengenal diri kita karena hasil tes itu, dan makin lama kita akan sesuai dengan hasil tes itu, belum tentu karena memang pas tapi bisa karena afirmasi.

Afirmasi? Apa sih afirmasi itu?
Afirmasi adalah sesuatu yang kita katakan, pikirkan atau rasakan tentang diri kita, yang kita yakini itu kenyataan dan selanjutnya memang akan jadi nyata.

Yang saya tau dan saya yakini bahwa karakter kita dibentuk oleh lingkungan, pengalaman, dan afirmasi itu sendiri. Sangat sayang kalau afirmasi itu disadur plek-plek dari kelompok-kelompok kepribadian itu, karena kita hanya akan jadi mirip satu sama lain.

Kenali diri sendiri
Saya yakin, kita iseng-iseng tes-tes begitu karena ingin kenal diri sendiri kaaan? Sayangnya mengenal diri sendiri gak sesederhana menjalani kuis beberapa menit hingga jam lalu hasilnya hanya beberapa kelompok. Mengenal diri sendiri itu proses yang panjang!

Saya sendiri masih dalam tahap untuk mengenali diri sendiri, dan saya gak mau dengan cara instan dengan ikut tes-tes kepribadian dan meyakini isinya. Saya emang suka iseng-iseng ikut, tapi hasilnya segera saya lupakan. Saya mau tumbuh dengan natural bukan karena sugesti dari hasil tes.

Yang saya lakukan yaitu dengan banyak menulis tentang diri saya, apa yang saya suka dan tidak, bagaimana saya memandang sesuatu, apa kelebihan dan kekurangan saya. Juga banyak membaca dan banyak mencoba hobi-hobi baru. Akhirnya sedikit demi sedikit saya akan tau seperti apa diri saya.

Setelah kenal dikit-dikit, saya lalu membentuk diri saya sendiri. Saya tau saya kreatif jadi saya harus punya sarana kreatif, blog ini misalnya. Saya suka melakukan hal-hal baru yang mendukung pencarian minat saya. Saya suka memulai tapi kurang konsisten untuk menyelesaikan, ini kekurangan saya, harus dienyahkan. Saya kurang suka berkomunikasi verbal tapi harus dibiasakan masa dokter gigi gak ngomong? Saya juga kurang fokus dan harus berlatih untuk fokus. Saya punya modalitas belajar visual, tapi saya berusaha melatih semuanya.

Jadi tes-tes itu bullsht?
Nggak lah. Tapi biarlah profesional aja yang melakukannya. Saran saya kalau mau kenal diri sendiri lewat tes-tes yang sekalian total langsung ke psikolog dan saya yakin penjabarannya bakal kompleks *mengingat-ingat hasil tes psikologi pas SMA. Kalau sama psikolog, selain dapet diagnosis, kita juga akan dapet solusi. 🙂

Kalau gak mau total, ya ikut tes buat iseng-iseng aja, setelah dapet hasilnya segera lupakan. Jangan merasa kenal diri sendiri hanya dari hasil tes, sayang, karena hanya akan jadi rata-rata.

Oh iya, kadang-kadang saya suka gemes yang menggunakan karakter-karakter itu sebagai pembenarannya.. Misalnya gini:
A: Kenapa sih kamu kalau ada masalah selalu dipendam sendiri?
B: Aku kan introvert, jadi ya seperti ini.
Grrr… padahal introvert dan extrovert itu bukan untuk pembenaran, tapi untuk mencari pendekatan yang tepat untuk menangani seseorang yang berkepribadian itu, untuk mencari solusi bukan harga mati.

So, inti post ini apa?
Bukan untuk mengintimidasi yang suka berpegang pada hasil tes-tes itu. Tapi berkembanglah dengan alami, jadi diri sendiri yang UNIK, jangan mau sesederhana karakter-karakter yang ada di hasil tes itu. Biarlah para profesional saja yang berpegang dalam hal itu. Kalau saya, saya lebih memilih memiliki karakter yang tidak terdefinisi, yang tidak termasuk dalam kelompok apa pun.

Karena saya cuma satu.
Ya, Justisia Nafsi Yunita memang cuma satu! 🙂

PS: Ide tulisan ini udah ada dari lama. Tapi jadi gatel untuk segera nulis setelah baca The White Castle-nya Orhan Pamuk.
PPS: Saya mulai berpikir seperti yang di post ini setelah berkali-kali iseng ikut test tapi hasilnya balance mulu, kalau ada keluar satu hasil seringnya malah terasa ‘gak gue banget’ ditambah pernah baca post mahasiswa psikolog yang setiap belajar hal yang baru, dia lalu mendiagnosis dirinya sendiri, dan diperingatkan oleh dosen atau senior karena kepribadian seseorang itu kompleks butuh selesai kuliah dulu baru bisa menilai seseorang. Lalu apalah kita yang awam ini?
PPPS: Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya saja plus sedikit memory hasil belajar NLP.

Jadi, bagaimana pendapatmu?

Advertisements

70 Comments

  1. Pingback: EF#6 Jenny | JNYnita

  2. metamocca says

    Jangan merasa kenal diri sendiri hanya dari hasil tes, sayang, karena hanya akan jadi RATA-RATA. —-> suka ini 😀

  3. Klo dipikir-pikir iya sih, saya malah suka klo ikut tes-tesan begitu Mbak, suka penasaran aja sama hasil akhirnya, dan ujung-ujungnya klo hasilnya gak sesuai paling cuma bilang gini: Ah itu kan pinter-pinternya orang psikolog aja bikin soal hehe

  4. Kalo gw mah seneng baca hasil tes Nit tapi habis itu lupa. Hahahaha., Lagian hasil tes yang bilang gw lemah di sini kuat di sana pas diaplikasikan kok ga pernah pas. 😛

  5. dikau cocoknya jadi psikolog deh nit, bukan dokter gigi..

    yang bikin kelompokkelompok gitu kan udah study kasus, dan cocok ga cocok orang berdasarkan kriteria itu [mau zodiak, mau karakter, mau shio] pun ga semua cocok kalu lingkungannya beda..

  6. Iya Nit, suka bingung sm orang yg mau ‘dikelompokan’ begitu ya, kan ga sesederhana itu ya he he.
    kalo iseng ikutan test begitu aku suka banyak ga samanya deh dg yg seharusnya hahahaha

  7. Tulisan nya bagus.
    Beberapa orang yang suka ikutan test dadakan untuk penggolongan karakter, semoga cuma sekedar “mencari tahu” tanpa terlalu percaya dengan pasti. Supaya bisa berkembang menjadi lebih baik, tidak di situ-situ saja.

  8. Aku sih suka ikut2 test gituan, tapi ga terlalu percaya sama hasilnya sih….kadang-kadang cuma penasaran aja sama hasilnya… tapi pas ketemu hasilnya nih, contohnya ada beberapa yang emang bener, ya udin…tapi kalo beberapa yang ga bener pasti aku pikir, ah ga bener nah… testnya payah….hihihi…. tapi ujung2nya sih aku ga pernah menganggap serius test2 gituan… emang rasanya kalo bukan ahlinya yang terjun langsung nge-test aku ga gampang percaya deh….

    • Suip… aku jg gitu… klo pengen tes beneran ya ke profesional aja.. jangan nanggung2..

  9. pengelompokan spt diatas tentunya hnya bersifat teori sdgkan manusia brsifat “mobile” dlm arti ssorg itu mnjdi ekstrovert/introvert bs terjadi temporal mngingat manusia itu sbg human society

  10. pengelompokan spt diatas tentunya hnya bersifat teori sdgkan manusia brsifat “mobile” dlm arti ssorg itu mnjdi ekstrovert/introvert bs terjadi temporal mngingat manusia itu sbg human society..

    • Introvert dan ekstrovert tergantung lingkungannya kalau lingkungannya enak si introvert pasti bisa lebih terbuka.. begitu juga sebaliknya.. maksudnya begini kan? 🙂

  11. Syukurlah setiap kita unik hingga saling melengkapi. Sesi pengenalan diri yang berlangsung selamanya nih. TFS Jeng Nita. Salam

  12. Yap, benar sekali. Hal ini juga bisa ditanyakan ke Andrie Wongso, beliau sebenarnya kalau menurut ramalan tionghua adalah orang yang hokinya kurang baik. Tapi karena pada dasarnya itu hanya sugesti, maka terbukti bahwa beliau tidak sial hidupnya, malah justru sangat sukses.

  13. Saya salah satunya yg suka nyari dari referensi di internet.
    Awalnya tertarik gara2 bingung ngisi formulir pendaftaraan organisasi atau kepanitiaan di bagian kelebihan kekurangan. Ya jadinya nyontek dari penggolongan yg tadi.

    • Aku paling males klo diwawancarai tentang itu, walau cukup tau, tp rahasia ah.. 😀

  14. kayanya aku belu pernah ikutan tes deh 🙂 salam kenal ya, thanks sudah mampir

  15. dari beberapa pengelompokan, aku suka yang modenya MBTI … pengalamanku, beberapa kali iseng ikutan tes memang jadi lebih memahami diri sendiri, tahu preferensinya apa saja. Tetapi tentu saja hasil tes itu kan hanya menampilkan sebagian diri kita aja, nggak seluruhnya, jadi masih banyak sisi yang sulit di lihat dengan tes-tes beginian … 🙂

  16. kalau aku seh jujur gak tahu juga sama karakter aku, dan lebih gak mau tahu. karena kalau aku sudah ‘tahu’ aku akan berfikir dan terkekang sendiri dengan ketahuan itu yang pada awalnya gak jadi diiya-iyakan *ribet banget bahasanya* hehehe

  17. hm.. aku setua ini blom merasa kenal betul dg diri sendiri.. apalagi org lain ya? haha… TFS Nita, setuju bahwa setiap orang unik & sekaligus kompleks, butuh seumur hidup utk mengenali / memahami diri sendiri..

  18. Kalo lagi periksa pasien kan pasiennya mangap terus ? gimana ngomongnya :mrgreen:
    Setiap pribadi memang unik bahkan lebih unik dari sidik jari 🙂

    • Lha kan drg-nya yg ngomong… jelasin lubang2 yang ada, gimana cara sikat gigi, perawatan yg akan dilakukan, resikonya, dll. 🙂

  19. tulisannya bagus sekali….
    manusia itu berproses ya nita…
    ada masa2 labil… ada masanya menydari siapa dia mo apa dan mo kemana
    prosesnya ada yang dapat segera menyadari… menuju kedewasaan (kemandirian)
    banyak juga yang sampai dewasa tidak mature2, masih juga percaya zodiak, tarot
    padahal manusia itu fi ahsani takwim.. sebaik-baik penciptaan… sangat special dan kompleks.

    jadi berbahagialah yang sudah menyadari keistimewaan/keunikan dirinya
    dan menjadi dewasa tahu mana yang main2 dan iseng saja mana diperlukan karena satu hal..

    Jadi tes-tes itu bullsh*t?
    zodiak dan tarot jelas kebulls-tannya yang lain entah…

  20. Klasifikasi karakter koleris, plegmatis, sanguinis, dan melankolis itu bukan berasal dari Dale Carnegie, setahu saya Florence Littauer. cmiiw.
    Untuk mengenali diri sebaiknya jangan mudah ter-sugesti oleh tes-tes instant yang biasanya banyak bertebaran di internet maupun majalah-majalah remaja.
    Tes-tes psikolog itu bagi seorang HRD hanya dipakai untuk referensi bagaimana mereka ditempatkan dalam sebuah tim.

    • Bacanya di Buku Dalle Carnegie Mas, hehehe…
      Tul kan klasifikasi itu buat pro.. drg juga mengklasifikasi beberapa karakter untuk tau bagaimana pendekatan buat mereka bukan buat pembelaan diri bagi mereka. 🙂

  21. kalo test- test yang begitu sih buat have fun aja,
    btw mbak, dokter itu harus aktif komunikasi kan yah? soalnya kebetulan aku dpt gynecologist orangnya pendiem banget, jadi gemes akuh, jadinya gak tau apa yg ada di ‘dalam’ku

    • Tanya aja ke dia Mbak.. Mungkin dokternya kira Mbak udah pinter 😀
      aku klo sama pasien agak2 cerewet sih,, karena emang disuruhnya begitu.. klo gak diajak ngobrol selama perawatannya bisa bosen.. sekalian utk edukasi juga. 😀

      • lah ya itu, masa harus ditanyain, sambil usg tuh kan enaknya sambil njelasin apa yang terlihat di screen kan yah …

        • Iya sihhh.. 😀
          aku pernah di USG untungnya dapet dokter yang ngejelasin 😀

  22. Tapi balik lagi ya kalo orang-orang, terutama orang Indonesia suka yang ‘di ramal yang wah-ini-gue-banget’. Ya walaupun ga semua, tapi mayoritasnya ya kebanyak suka yang gituan.
    Nah, jadi balik ke diri sendiri lagi deh, terserah mau ikut yang mana. ( ._.)

  23. Saya jadi ikut tersugesti juga baca post Kakak ini. Saya cuman ada satu 😀 ehehe…
    Setuju Kak, suka deh sama post ini :3

  24. kita cendrung mencocok cocokan sih padahal Life isn’t about finding yourself. Life is about creating yourself 🙂

  25. seperti kata filsuf India, Jiddu Krishnamurti, mengenal diri seperti menyelusuri sungai yagn tak berujung. Maka, bukan tidak mungkin masih ada aspek2 yang belum bisa kita ketahui dari diri kita sendiri. Semua perlu proses

    • ada ujungnya tapi 😀
      pas sampai di ujung udah gak bisa mengenal diri sendiri lagi 😦

  26. nabils29 says

    iya setuju ka… ak jga merasakan hal sama dg kakak…
    aku jg pernah nyoba tes spt itu di internet, dan itu sudah berulang kali, dan… hasilnya tidak pernah sama dengan aku yang sebenarnya…
    contoh : aku bergolongan darah B (memang betul aku goldar B) dan aku nyocokin sama kepribadian yang ada di internet ttg goldar, tapi kenapa rasanya nggak pernah cocok dengan pengkotakan spt itu…
    dan akhirnya.. aku tidak lagi sering mencoba tes-tes spt itu, aku terus belajar mengenal aku sendiri. memang aku tidak bisa dikotakkan ke mana-mana, meski goldarku B, meski aku begini aku begitu… tetap saja aku itu aku, dan semua orang jg prnah merasakan ini… dirinya ialah dirinya…
    setiap orang itu unik, dan tidak bisa dikotakkan dalam tes yang sederhana…. 🙂

Comments are closed.