The Queen’s Gambit – Must Watch!!!

Untuk urusan film, aku punya tempat khusus di hati untuk film-film yang settingannya klasik. Gone with the Wind, Dead Poet’s Society, Jane Eyre (yang ini aku tonton versi documentary), Breakfast at Tiffany’s, semuanya Oldie but Goldie. Lalu aku tambah satu di list tersebut: The Queen’s Gambit.

The Queen’s Gambit memang buatan tahun 2020, tapi detailnya oke.. Haha, ini sotoy sih karena yang aku jadiin indikator cuma satu: bentuk bra-nya jadul!! Aku jadi berasa pervert karena pas di awal nonton ini yang aku lihat adalah bagian dada si pemeran utama yang bikin aku ingat pas nonton sejarah bra dari tahun ke tahun. Melihat yang produksi film juga merhatiin hal yang tidak terlihat oleh mata, aku langsung yakin ceritanya bakal bagus.

Diangkat Dari Novel…

The Queen’s Gambit ternyata diangkat dari novel dengan judul yang sama, karya Walter Tevis, terbit tahun 1983 (setahun sebelum beliau wafat). Awalnya akan dibuat film, namun untungnya dijadikan miniseries saja sehingga bisa digambarkan lebih detil.

Setelah nonton beberapa episode, aku baca sample yang ada di Google Play Books, menariknya deskripsi dan dialognya bisa sama persis dengan yang digambarkan di drama. Ada bagian yang eksplisit yang tidak digabarkan di Drama, tapi itu gak masalah untuk di-skip. Karena begitu mirip akhirnya aku putuskan baca novel-nya kapan-kapan saja.

Sinopsis

Walau terbit di tahun 1983, latar belakang cerita ini adalah di tahun 1960-an saat terjadinya Perang Dingin antara Amerika dengan Uni Soviet. Yang jadi tokoh utama adalah Elizabeth (Beth) Harmon seorang yatim piatu yang menjadi saksi mata kematian ibunya. Setelah fix hidup sebatang kara, Beth dibesarkan di Methuen Home (Panti Asuhan).

Beth tumbuh sebagai gadis yang pintar. Karena saking pinter dan cepat mengerjakan tugas, Beth sering dapat tugas untuk membersihkan penghapus papan tulis di basement. Di sana Beth bertemu dengan Mr. Shaibel yang selalu berada di depan papan catur, lalu beliau mengajarkan catur kepada Beth. Cerita utama dari drama ini adalah perjalanan Beth untuk bisa menjadi Juara Dunia dengan mengalahkan Vasily Borgov dari Rusia.

Candu Obat-obatan dan Alkohol

Di jam makan siang, anak-anak di Panti Asuhan mendapatkan jatah vitamin berwarna hijau dan merah. Pil yang hijau itu ternyata adalah tranquilizer yang fungsinya sebagai sedatif dan menghilangkan kecemasan (ini adalah koentji kenapa anak-anak di Panti Asuhan itu jadi terkendali). Beberapa saat kemudian tranquilizer menjadi obat yang harus ditebus dengan resep dokter, namun Beth sudah terlanjur kecanduan terhadapnya.

Kecanduan tranquilizer ini diperparah dengan alkohol dikarenakan ibu asuhnya merupakan pecandu alkohol. Sosok Beth sempat menjadi menyebalkan namun tidak bisa serta-merta disalahkan, sehingga saat nonton timbul rasa empati juga.

Stigma Gender

Catur merupakan permainan yang didominasi oleh pria dan dari awal Beth sudah diremehkan karena dia perempuan. Yang menarik justru hal ini membuat Beth ingin semakin menonjolkan kewanitaannya dari segi make-up, pakaian, dan gestur tubuh. Di sini kita lihat glow-up juga dari Beth di masa kecil yang sangat cupu jadi super cuantikk..

Mengatasi Trauma Masa Kecil

Melihat ibu kandung memutuskan bunuh diri, tentu saja menjadi hal yang traumatis untuk anak 9 tahun, tapi Beth tidak menunjukkan rasa frustasinya. Catur, obat-obatan, dan alkohol adalah distraksi baginya. Pertandingan melawan Borgov juga merupakan pertandingan melawan ketergantungan dan berdamai dengan diri sendiri dan masa lalunya.

Learn To Lean On….

“Dark’s nothing to be afraid of. In fact, I’d go as far as saying there’s nothing to be afraid of. Anywhere. The strongest person is the person who isn’t scared to be alone. It’s other people you got to worry about. Other people. They’ll tell you what to do, how to feel,.. before you know it you’re pouring your life out in search of something other people told you to go look for. Someday, you’re gonna be all alone, so you need to figure out how to take care of yourself.”

Alice Harmon

Kata-kata di atas adalah ucapan dari ibu Beth, aku merasa itu benar namun ternyata hal itu bikin Beth menjadi sangat individual. Yes, permainan catur merupakan permainan individu, namun untuk membuat strategi butuh kerja sama dan dukungan dari orang lain. Poin terakhir ini yang membuat drama ini terlihat sangat apik.

Chess for Fun!

Setelah jadi Juara Dunia lalu apa?? Setelah mimpi dan obsesi hidup tercapai lalu apa? Hal ini suka yang bikin hidup terasa jadi gloomy dan depresi setelah target yang ingin kita dicapai sudah terwujud.

Untuk Beth adalah bisa bermain catur untuk kesenangan. Bukan untuk pelarian dari pusingnya dunia, turnamen, demi dapat uang, dan ego untuk tidak terkalahkan. Hal ini tergambar di adegan terakhir dari drama.

Aku menggambarkan drama ini dengan rinci, tapi percaya deh, ini bukan spoiler.. Yang belum nonton, yuk ditonton!!

Rating

Rating: 5 out of 5.

5 thoughts on “The Queen’s Gambit – Must Watch!!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.