Journal, life

LIFE: Beli, Pakai, Suka Buatan Malaysia

Saat saya dan teman saya yang-sering-saya-sebut nonton ini, rasanya itu nyessss banget, gara-gara episode ini isinya tentang doktrin untuk cinta produk Malaysia tapi kami nontonnya di stasiun TV Indonesia di saat kami merasa produk Indonesia kurang berkembang dan kurang diminati oleh rakyatnya sendiri.

Apakah teman-teman masih bangga menggunakan produk asing dan gengsi pakai produk Indonesia? Ayo dibalik… Mari kita malu pakai produk asing dan bangga pakai produk Indonesia. Merdeka!!!

PS: “Selamat Pak Jokowi, Shell mulai ramai
follow us in feedly

Advertisements

35 Comments

  1. Saya nonton yang episode ini jg Nit *eh, mungkin nonton semua episodenya deh, malah ada yg diulang2, secara nebeng sama anak nontonnya πŸ˜€
    Metode yg bagus menyampaikan pesan cinta produk lokal, ke generasi yg sangat akrab dengan internet.

    • Iya nih.. Biasanya aku ngeblog tanpa misi, skrg mulai bermisi utk cinta produk lokal.. Mbak Ysalma juga dong,, buat post yang mendorong kita utk lbh cinta produk Indonesia πŸ™‚

      • Produk yang dipakai sehari-hari kan made in Indonesia semua Nit *walau kadang cuma rakitannya aja πŸ˜€

  2. Kecuali elektronik, saya suka buatan Indonesia. Tas, sepatu ama baju sih saya suka produk Indonesia. πŸ™‚ | Terkadang sih kalau sepatu masih suka ama produk Nike. hehe

    • Elektronik malah aku mulai lirik produk lokal, tp utk sneakers belum ada produk lokal yang mumpuni.. Pdhal dulu Nike, adidas pabriknya di Indonesia, hrsnya bisa nyalin gmn cara buatnya yaa..

      • Masih ada kok sepatu yang dibuat dari pabrik lokal, walaupun punya orang luar.. kaya Reebok.

  3. ada yang bilang, sebenarnya ide Upin Ipin ini dibuat oleh orang Indonesia (gak tahu benar apa gak) namun karena ditolak beberapa kali oleh PH Indonesia jadi dijuallah ke negeri seberang.

  4. Hampir semua episode Upin-Ipin saya suka, sampai mengoleksi film-filmnya. Mestinya episode ini menjadi cambuk bagi kita sekaligus cermin, begitulah kreatifnya pemerintah negeri jiran tersebut dalam mendorong animator di negerinya untuk mendukung program pemerintah menuju visi Truly Asia.

    Seorang Taipan berpesan: “Mali.. cintailah ploduk-ploduk Indonesia”
    (di era orde kartu, banyak semi produk-produk Tiongkok yang diassembly di Indonesia).

    • Semi produk tiongkok yang diassembly di Indonesia maksudnya apa Mas? Hehe, aku gak ngerti.. πŸ˜€

      • Contoh: IVO adalah produk smatphone 4G LTE pertama di Indonesia, pabriknya ada di Batam. Sebagian besar komponennya berasal dari China, yg kemudian dirakit di Indonesia. Maka jadilah itu disebut produk lokal.

        Contoh lainnya, di pasar-pasar kita banyak dijual batik buatan lokal, namun serat benang / serat kapas sintetis sbg bahan dasar kain batik masih diimpor dari Cina, karena lebih murah.

        Dalam sebuah formula harga sebuah produk, harga komponen / bahan dasar itu porsinya lebih tinggi dari biaya perakitan / assembly.

        • Yg bener2 mandiri dgn bahan baku dr Indonesia semua udah ada belum Mas?

          Aku br tau ttg IVO ini, selama ini kukira cm Polytron doang merek Indonesia yang udah menyediakan HP, tp aku kok curiganya masih rebranding.. Tapi td abis intip web-nya disana tercantum udah mulai produksi featured phone dan smartphone sendiri..

        • Saya tahunya saat bulan lalu saya presentasi dalam ajang lomba teknopreneur, .. saat tanya jawab ada juri yang membahas soal bahan dasar dan menjadikan produk IVO sbg contoh kasusnya.
          Soal bahan dasar ya mungkin rahasia perusahaan, dan tidak mudah untuk di-ekspose. Kita bisa melihat, apakah ada pabrik otak gadget di sini? Sejenis chip semiconductor yang biasa diproduksi di lembah silicon.
          Kebanyakan di sini adalah jenis fabrikasi SMT (Surface Mount Technology) atau assembly chip-chip semiconductor dan peripheralnya yang di-impor dari luar. Kita hanya merakit.

        • Klo mikir ttg sumber bahan produksinya mungkin emang krn selain teknologinya kurang, modalnya jg kurang.. Jd walaupun skrg masih rebranding atau bahan bakunya banyak yg dari Cina, ttp hrs dukung merek Indonesia ya Mas? Supaya nantinya merek Indonesia punya modal utk research dan produksi lagi..

        • Betul sekali.. itu butuh proses. Yang penting menanamkan mindset bahwa mencintai dan menggunakan produk-produk dalam negeri adalah bagian dari upaya membangun kemandirian bangsa. Berdikari. Merdeka!

          Saya mau nulis di blog tentang anak bangsa kita yang berkarya untuk bangsa lain, mewujudkan produk bangsa lain, dan kita di sini menikmati produknya. Mencoba melanjutkan tulisan terdahulu. Rada sensitif sih πŸ™‚

        • Waaah.. Jd penasaran… Ditunggu tulisannya ya Mas..
          Aku tdnya gak aware ttg beginian, tp aku punya temen klo ketemu dia obrolannya ya seputar ini mulu, jadi ketularan deh.. πŸ˜€

        • Sabar.. saya nunggu rilis publikasi dari WIPO di akhir tahun.

          Ada masalah besar di negeri ini tapi (sepertinya) sedikit sekali disinggung pemerintah. Saya mencoba memaparkan sebagian gunung es-nya di sini:
          http://iwanyuliyanto.co/2012/02/12/dalam-jumlah-paten-internasional-indonesia-pun-sangat-jauh-tertinggal/

          Berbagai contoh kasusnya saya list di akhir paragraf jurnal tsb, dan nyambung ke kasus2 lain di bagian komentar. Pernah dengar kasus pengrajin Bali yg dipidana karena memproduksi kerajinannya sendiri? Nahh.. kenapa bisa spt itu? Silakan simak jurnal tsb.

        • Jawaban komentarku jd berasa gak nyambung.. Hehehe.. Dr yang kutangkap dr curhatan temenku, gimana Indonesia mau maju dan bersaing dengan bangsa lain. Bangsa lain itu buat strategi berdasarkan penelitian dan teori, sementara pemerintah Indonesia buat strategi cuma berdasarkan pengalamannya aja atau seakan tau hal yang di lapangan..
          Kata temenku, yang bikin pusing adalah waktu buat tesis.. Dia hrs mempresentasikan instansinya, tapi gak ada dasar teori yang mendasari kebijakan di instansinya, kebanyakan hanya berdasarkan ‘katanya’ dan ‘menurut saya’
          Hiks…

        • Hehehe… iya, gak papa, mbak.
          Poin yg ingin kusampaikan dalam contoh kasus jurnalku dan komen2 di atas adalah .. kita mencintai produk dalam negeri alias produk dalam rumah kita sendiri, tapi sayangnya ada produk2 yang pemilik usahanya adalah tetangga di luar rumah, yang memproduksi sebesar-besarnya di dalam rumah kita, menggerus sumber daya yg ada di dalam rumah kita. Produk2 kebutuhan primer dan sekunder.
          Setiap tahun jumlah paten yg kita hasilkan bisa dihitung dg jari, sedangkan mereka ribuan. Padahal diantara ribuan paten mereka ada sumbangsih dari anak-anak bangsa kita. Ini aneh. Yang tetangga kuasai bukan hanya industri2 besar, tapi sudah merambah ke industri2 rumahan.

Comments are closed.