Skip to content
Advertisements

Jadi Dokter Gigi BPJS di Faskes Tingkat Pertama

wp-1541865488888..jpg

Hai guys, aku baru pulang praktek nih. Tapi prakteknya bukan di Klinik yang di atas ya guys. Kalau yang di foto atas itu saat aku lagi praktek di Polres. Ada fotonya bukan karena aku narsis lho, foto kegiatan adalah hal yang wajib dilakukan kalau di Polres, lalu fotonya dikirim deh ke Polda.

Di pos kali ini aku mau cerita tentang jadi dokter gigi BPJS di Klinis Faskes tingkat pertama, kebetulan ketiga tempat praktekku Klinik BPJS semua. Hhhm, jadi dokter gigi BPJS itu sering banget dinyinyirin karena ya gitu deh, pasiennya banyak tapi yang didapat minimalis. Hahaha, aku nulis ini bukan untuk mengeluh ya guys, justru aku lumayan enjoy menjalaninya.

Kenapa bisa dinikmati, begini alasannya..

Klinik BPJS Faskes Pertama hanya melayani tindakan gigi sederhana

Kalau mau disimpulkan dokter gigi BPJS Faskes Pertama ngapain aja ya itu scalling, tambal, dan cabut sederhana. Tindakan yang agak rumit sedikit seperti Perawatan Saluran Akar (PSA) atau yang sangat rumit seperti pencabutan akar gigi yang tertutup gusi, operasi gigi bungsu, dan sebagainya bisa dirujuk. Karena tindakannya sederhana, kasusnya gak susah-susah dan ini bikin aku gak stress kerjanya.

Jika pasien harus dirujuk, karena dokter gigi spesialis jumlahnya masih terbatas, rujukan jadi hal yang rumit. Pasien sering harus masuk ke waiting list atau harus mengantri lama saat perawatan. Oleh karena itu aku sering mengingatkan pasien kalau pakai BPJS sebagai pencegahan, karena sekalinya sakit gigi dan harus dirujut bisa repot banget.

Fokus ke Pencegahan daripada Pengobatan

Walaupun BPJS berjanji akan meng-cover semua perawatan gigi, Merasakan sakit gigi, harus mondar-mandir ke dokter gigi ditambah rujukan yang ribet, tentu saja bukan hal yang menyenangkan. Jadi aku selalu bilang ke pasien: BPJS jangan dianggap sebagai penjagaan kalau kita sakit, tapi gunakan BPJS untuk mencegah rasa sakit.

Biasanya saat lubang gigi masih kecil, karang gigi belum mengganggu penampilan, dan gigi yang sudah indikasi pencabutan belum timbul rasa sakit, pasien malas ke dokter gigi. Padahal anjurannya kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali kan?

Fungsinya datang ke dokter gigi untuk kontrol rutin adalah untuk mengecek kondisi gigi satu persatu: jika ada gigi yang rawan kotor bisa diingatkan untuk fokus membersihkan daerah yang situ, jika ada gigi yang berlubang bisa langsung ditambal, dan seterusnya. Biasanya dokter gigi akan ‘meramal’ bagaimana kondisi gigi di kemudian hari jika hal tersebut dibiarkan, kalau berisiko sakit tentu saja dilakukan tindakan sekarang.

Untuk pasien-pasienku, biasanya di kunjungan pertama aku lihat dulu kondisi giginya secara keseluruhan, lalu diterangkan kondisinya. Saat datang pertama biasanya memang dalam keadaan punya keluhan, tapi kunjungan berikutnya sudah untuk pencegahan penyakit.

Gak repot bikin kwitansi

Konsekuensi dari tindakan di atas adalah pasien harus sering datang dan dilakukan tindakan pada giginya kalau si pasien punya banyak kasus. Kalau perawatannya dengan biaya sendiri, pasti akan bikin mikir baik si pasien maupun dokter giginya. Saat menghadapi pasien yang datang ke dokter gigi akunya suka gak enakan kalau meminta pasiennya sering-sering datang, kesannya kayak… (ya gitu deh). Hehehehe.

Kebahagiaan tersendiri saat kasus gigi di pasiennya tuntas

Setelah diterangkan masalah giginya kepada pasien, pasien yang cerdas dan nurut biasanya bener-bener datang rutin menuntaskan seluruh masalah di giginya. Jadi pasienku itu bisa banyak seringnya orangnya itu-itu aja, kalau masih ada masalah di giginya tiap minggu bisa muncul di Klinik. Satu persatu masalahnya ditangani hingga akhirnya beres semua dan tinggal kontrol. Ah senangnya.

Aku juga seneng banget kalau ada pasien lama yang dateng cuma untuk kontrol aja. Ada pasien yang begitu lebih menyenangkan, apalagi kalau giginya bersih dan gak ada penyakit yang baru. Kalau datang hanya untuk kontrol suasanya juga jadi lebih santai karena isinya cuma ngobrol-ngobrol dan hahahihi. Jangan anggap kontrol dan tidak ditemukan masalah apa pun adalah hal yang sia-sia ya guys.

Statusnya dalam bentuk digital

Salah satu kecenya BPJS adalah statusnya dalam bentuk digital, jadi paperless gitu loh. Baru satu tempat praktekku yang bener-bener pakai komputer, awalnya terasa ribet tapi sekarang sudah terasa enaknya. Ngetik dan nulis tangan lebih cepat mengetik, lalu pasien gak perlu ribet-ribet kasih status ke Apotek karena data dari dokter langsung sinkronisasi dengan di Apotek, pasien tinggal nunggu obatnya selesai diracik. Melihat rekam medis pasien juga lebih mudah, gak perlu lagi pinjem status dari poli sebelah.

wp-1541865532637..jpg

Namaku di Sistem sudah bener lho guys…

Inilah pengalamanku jadi dokter gigi di Klinik BPJS Faskes Pertama. Teman-teman ada yang pernah jadi pasien dokter gigi di Klinik BPJS? Sharing pengalamannya dong. 🙂

Advertisements

20 Comments »

  1. waaw jd penasaran nita prakteknya di mana sihh! hehe aku pernah jadi pasien bpjs kebetulan pas kontrol buat lahiran.. pas awal jg di suruh periksa detail gtu mulai dari tes hiv sampe periksa gigi jg.. di tempatjunjg udah kece faskes pertamanya komputerisasi gtu.. hehe semangatt bu dokter gigii

  2. Tujuan BPJS jangka panjang mmg lbh ke arah preventif ya
    tapi kalo skrg sih mmg masih tahap kuratif…

    Wah….pasti senang sekali ya kalo dokter giginya kayak mbak…
    dan kliniknya udah kece juga sistemnya…

    • Yess.. memang preventif, konsep awalnya itu dokter keluarga yang sayangnya dulu gak jalan. masalahnya sosialisasi ke masyarakatnya masih kurang, dan lebih ditekankan “sakit apa aja akan ditanggung” (jadi mental kuratif kan).
      Untuk klinik belum semuanya menjalani komputerisasi spt ini, semoga segera merata yaa..

    • Kalau di Puskesmas pasti akan ramai, hehehe, soalnya yang belum punya bpjs pun msh bisa berobat ke Puskesmas kan? klo klinik BPJS tergantung kliniknya. biasanya di klinikku ada jam pendaftaran, lalu pasien dijadwalin jam yang spesifik jd gak perlu nunggu lama..

  3. Wah keren ya klinik BPJS ini. Sudah komputerisasi dan otomatis ke apotik. Semoga makin maju fasilitas kesehatan di Indonesia dan merata sampai ke pelosok.
    Mau pamer aja, sampai menjelang 40 tahun ini (ya masih beberapa tahun lagi sih), belum pernah sekalipun sakit gigi, ga ada yg berlobang dan ga pernah ada keluhan dengan gigi. Prestasi yang selalu kubanggakan ini haha. Memang sejak kecil rajin periksa gigi dan terbawa sampai besar. Di sini pun cuma wajib sekali ke dokter gigi, katanya karena gigiku sudah ok. Padahal normalnya orang2 sini 6 bulan sekali.

    • waaah kece bangeeet… gigiku sendiri malah parah. hahaha.. dulu bolak-balik ke drg pas sekolah hingga akhirnya drgnya bilang untuk jadi dokter gigi aja, eh beneran kesampaian..
      Sayangnya gak semua klinik BPJS bisa menerapkan fasilitas ini Mbak, untuk klinik yang kapitasinya masih kecil (jumlah pasien yang menjadikan klinik tsbt sbagai klinik pertama) bisa jadi keteteran untuk jaga cash flow kliniknya.. Semoga pasien di Indonesia makin cerdas ya Mbak,, menggunakan BPJS untuk pencegahan bukan untuk jaga2 karena sakit, krn sekarang ini pasien seringnya baru datang pas udah parah dengan tindakan yang akhirnya jadi mahal (makanya banyak isu BPJS nunggak).

  4. Blm pernah. Aku ga ada BPJS nih. Ada asuransi dr kantor Suami. Plafonnya gede banget urusan gigi ini tp sayangnya aku ga ada waktu buat ke dokter gigi krn bingung si bayi mo dititipin ke siapa. Terakhir kali ke dokter gigi ya pas hamil gede anak pertama. Itu ditambal semua lubang kecil2nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: