event, featured

EVENT: Maju Kena Mundur Kena di Jakarta Biennale 2015

image

Udah ada rencana untuk weekend ini?

Kalau belum, kusarankan untuk melipir ke Gudang Sarinah di Jalan Pancoran II no.4 karena di sana ada Jakarta Biennale 2015 yang cuma ada sampai tanggal 17 Januari 2016! Fokus ya Gaes, lokasinya di Gudang Sarinah Pancoran, bukan Sarinah yang di Thamrin. 😀

Ayo intip webnya: jakartabiennale.net 😀

image

Libertate Freedom – Dan Perjovschi

Jakarta Biennale ini merupakan pameran seni rupa berskala Internasional yang dilakukan secara rutin setiap 2 tahun sekali. Walau pameran seni rupa, menurutku event ini bisa dinikmati dari muda hingga tua. Yang muda bisa menemukan tempat yang oke untuk foto-foto dan bikin Instagram jadi tampak berbeda, bisa juga untuk hunting foto ala-ala. Yang tua (hhhm, aku termasuk muda atau tua?) bisa menikmati isu-isu yang ditawarkan dalam pameran ini.

“MAJU KENA, MUNDUR KENA: Bertindak Sekarang”

image

“Maju Kena Mundur Kena” menjadi tema Jakarta Biennale 2015 yang diambil dari judul film Warung Kopi di tahun 1980-an. Indonesia telah melewati berbagai era perubahan di masa lalu seperti yang terjadi di tahun 1965 dan 1998 yang menorehkan luka namun juga memberikan optimisme, sayangnya sekarang ini Indonesia seperti kembali gamang, cenderung takut dan kurang bersemangat menghadapi masa depan.

Paragraf di atas kutulis sebelum Sarinah Bombing kemarin. Semoga setelah kejadian kemarin, Indonesia menjadi lebih positif, percaya diri, dan optimis! Tapi jangan hilangkan rasa empati kita kepada korban. 

Lewat tema yang diusung Jakarta Biennale ingin mengajak masyarakat untuk fokus pada masa kini! Masa lalu boleh ditengok namun jangan terlarut dalam nostalgia dan masa depan direncanakan namun jangan terjebak dalam angan-angan. Semua karya seni yang dipamerkan dalam Jakarta Biennale 2015 mengangkat 3 isu besar yaitu sejarah, air, dan gender

TOUR WITH CURATORS: Irma Chantily dan Riksa Afiaty.

Karya seni yang dipamerkan mungkin hanya akan jadi objek fotoku saja apabila aku gak ikut  Tour with Curators yang dipandu oleh Irma Chantily dan Riksa Afiaty yang menjadi kurator muda dalam Jakarta Biennale 2015 ini. Dari mereka aku bisa dapat gambaran dari sebagian besar karya seni yang ada di sana. Tour with Curators aku abadikan dengan video dibawah ini (yang diedit dengan penuh perjuangan tapi tetep ada sedikit ketidaksinkronan antara video dan audio, sigh, tapi tetep worth to watch kok :D)

HIGHLIGHTS

distopia-oscar-munoz

Dystopia – Oscar Munoz. Menggambarkan kesia-siaan usaha manusia dalam melawan lupa apabila sejarah disimpan berupa gambar dan kata-kata yang menggunakan tinta.

The Most Sustainable Island in Archipelago - Tita Salina. Tita Salina berkolaborasi dengan nelayan setempat mengumpulkan sampah-sampah di kawasan Pantai Indah Kapuk dan Muara Angke lalu membentuknya menjadi sebuah pulau yang dinamakan 'Pulau 1001'. Pulau ini ditarik oleh kapal nelayan dan ditempatkan di antara pulau-pulau buatan di Kepulauan Seribu.

The Most Sustainable Island in Archipelago – Tita Salina. Tita Salina berkolaborasi dengan nelayan setempat mengumpulkan sampah-sampah di kawasan Pantai Indah Kapuk dan Muara Angke lalu membentuknya menjadi sebuah pulau yang dinamakan ‘Pulau 1001’. Pulau ini ditarik oleh kapal nelayan dan ditempatkan di antara pulau-pulau buatan di Kepulauan Seribu.

Cleanliness - Evelyn Pritt. Perempuan sering diasosiasikan dengan pekerjaan domestik, salah satunya mencuci. Evelyn menyediakan satu kaus putih untuk digunakan dan dicuci oleh para Ibu di 3 lokasi, yaitu Kampung Geulis di Bogor, Kampung Pulo dan Kampung Maja di Jakarta. Akhirnya proyek ini tidak hanya melihat potret kehidupan perempuan nampun juga potret air yang merupakan simbol pemberi kehidupan, seperti Ibu Pertiwi.

Cleanliness – Evelyn Pritt. Perempuan sering diasosiasikan dengan pekerjaan domestik, salah satunya mencuci. Evelyn menyediakan satu kaus putih untuk digunakan dan dicuci oleh para Ibu di 3 lokasi, yaitu Kampung Geulis di Bogor, Kampung Pulo dan Kampung Maja di Jakarta. Akhirnya proyek ini tidak hanya melihat potret kehidupan perempuan nampun juga potret air yang merupakan simbol pemberi kehidupan, seperti Ibu Pertiwi.

CLOSING STATEMENT.

Awalnya aku menganggap seni begitu sederhana, ‘hanya’ hasil karya orang-orang nyentrik yang ingin mengekspresikan dirinya. Jakarta Biennale 2015 mengubah persepsiku, ternyata karya seni merupakan hasil dari kerja keras, buah dari pemikiran yang panjang, diskusi, observasi, eksperimen, mencari referensi, mengolah medium, dan sebagainya. Setelah karya seni itu jadi pun masih harus dievaluasi lagi apakah benar-benar bisa menginterpretasikan gagasannya.

Sampai jumpa 2 tahun lagi Jakarta Biennale, insya Allah!

ps. Post ini perjuangan banget buatnya, butuh hampir 5 hari hingga akhirnya layak tayang, hehehe.

pps. Kalau ingin tau karya-karya di Jakarta Biennale 2015 dengan rinci, bisa juga baca post-nya Nia Nastiti, partner nge-bolang di Jakarta Biennale. 😀

Advertisements

9 Comments

  1. Kalau di Jogja, pameran seni beginian namanya ArtJog. Suka ternganga kalau melihat karya seni begini. Suka mikir, darimana mereka dapat ide. Luar biasak 😀

    • belum lengkap Niaa.. banyak yang aselinya pengen ditulis di sini, tp pusing nulisnya.. haha.. diwakilin videonya ajah..

Comments are closed.