Buku

BOOK: In Cold Blood

image

Ada yang aneh dengan cover buku di atas? Yup! Saya mengeditnya! Abis cover aslinya serem banget.. Kalau mau liat gimana aslinya bisa dilihat di post AMtoPM ini.. 🙂

Pas saya bahas tentang cara saya menyeleksi novel yang akan dibaca, Arip nanya ke saya, “Crime sama thriller ga tertarik?” Saat itu saya baruuuu aja nuntasin novel ini, sebuah novel kriminal. Jadi saya masih mau baca novel kriminal, tapi genre novel ini bukan my cup of coffee, sehingga kurang bisa menikmati.

Kalau dihubungkan dengan cara saya milih novel, In Cold Blood saya pilih karena:
• Termasuk dalam list “1001 Books You Must Read Before You Die”
• Penulisnya, Truman Capote, merupakan penulis yang cukup terkenal. Karya lainnya adalah Breakfast at Tiffany’s. Walau saya punya novel Breakfast at Tiffany’s, In Cold Blood saya pilih untuk berkenalan dengan Capote.

In Cold Blood merupakan novel kriminal pembunuhan sadis yang diangkat dari kisah nyata. Capote menuliskan hal yang dia amati secara langsung, yang dia baca dari catatan-catatan resmi, serta dari hasil wawancara dengan orang yang terlibat langsung sehingga wajar saja butuh waktu 6 tahun untuk merampungkan karya ini. Penceritaan dalam kisah ini dibagi dalam 4 babak, yaitu saat terakhir kehidupan mereka, orang-orang tak dikenal, jawaban, dan the corner.

Saat terakhir kehidupan mereka.
Di babak ini, Capote menceritakan bagaimana kehidupan dari Herb, Bonnie, Nancy, dan Kenyon Clutter di hari terakhir mereka. Herbert William Clutter, 48 tahun, merupakan pemilik River Valley Farm yang terletak di Holcomb, Kansas Barat yang sukses dan disegani di lingkungannya. Anak-anaknya juga begitu, mereka termasuk anak yang berprestasi sehingga sering menjadi panutan bagi yang lebih muda. Bisa dibilang, keluarga Clutter merupakan keluarga yang dianggap paling ideal di Holcomb.

Cara penceritaan di babak ini menarik menurut saya, karena penceritaannya berselang-seling antara kehidupan si korban dan pembunuh, yang ber-setting pada hari Sabtu 14 November 1959.

Orang-orang tak dikenal.
Babak ini merupakan pemaparan-pemaparan dari para saksi mata, detektif yang menangani, dan tetangga-tetangga mengenai kehidupan sehari-hari keluarga Clutter, siapa saja yang berinteraksi dengan korban menjelang hari akhir mereka dan tentunya bagaimana kronologis ditemukannya 4 korban ini di rumahnya pada hari Minggu, 15 Nopember 1959.

Jawaban.
Dari awal sudah diketahui siapa pembunuhnya, jadi di babak ini yang terkuak adalah alasan penetapan Perry dan Dick sebagai tersangka. Pembunuhan yang mereka lakukan sangatlah apik, tanpa meninggalkan jejak, tanpa motif yang jelas, tanpa saksi dan korban tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan membuat detektif sangat kesulitan untuk mencari pelakunya. Agak tak terduga sih bagaimana bisa terkuaknya, udah gatel juga pengen ngetik, tapi lebih baik buat penasaran aja ah. 😉

The corner.
Mereka sudah ditangkap lalu masuklah ke proses penyidangan. Di babak ini adalah tempat diceritakan kealotan proses persidangan, penjatuhan vonis, dan perjuangan mereka untuk mengajukan banding supaya terhindar dari hukuman mati yang mana usaha mereka hanya sanggup menunda hukuman mati tersebut.

The corner merupakan kata untuk menggambarkan penjara yang mereka tempati, penjara untuk terdakwa dengan vonis hukuman mati. Wuih, suram banget deh penjaranya, gelap, makanan seadanya, mandi hanya seminggu sekali, ventilasi minim, dan kesuraman lainnya. Selain mereka, ada 3 pembunuh berdarah dingin lainnya, ada sepasang yang membunuh 7 orang, dan satu orang yang membunuh anggota keluarganya sendiri, dan mereka tidak memiliki rasa bersalah karena telah melakukannya!

Selama saya baca ini, saya berasa diingatkan terus-menerus bahwa setiap jiwa pasti akan mati, mungkin karena terbayang kehidupan keluarga Clutter yang terlihat perfect tapi berakhir tragis. Selain itu, saya jadi bersyukur karena masih punya iman dan masih bisa melihat sisi positif dari kehidupan ini walau tidak selalu manis.

In Cold Blood
Penulis: Truman Capote
Alih bahasa: Santi Indra Astuti
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, September 2007
Halaman: viii + 476
My Rating: ★★☆☆☆ (just OK, dari sudut pandang pembaca yang baca untuk relax & enjoy), tapi buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca novel yang mau baca novel dengan alur menarik, babak-babak yang khas, dan karakter yang gila tapi gak lebay (penceritaannya tetep tenang). sotoy :p

Buku pinjaman dari Perpus Diknas

Advertisements

15 Comments

  1. Pingback: JNYnita Ikutan Blogiveaway-nya Tom Kuu | JNYnita

  2. Pingback: Breakfast at Tiffany’s | JNYnita

    • trus abis punya langsung masuk rak buku dan merasa legaaa.. hahaha..
      *penyakitku*

  3. oh ini ada filmnya juga mbak nit. judulnya Infamous, pemainnya yang jadi james bond.

      • Tapi penasaran Kaak.
        Wah, resensi Kak Nita bagus-bagus terus nih, rasanya pengen beli buku-buku yang diresensiin, padahal isi dompet belum memungkinkan untuk nambah koleksi.

        • Buku ini cm dpt 2 bintang dr aku lho,, ceritanya bukan aku banget.. minggu depan giliran Breakfast at Tiffany’s yang kuulas, kalau yang ini aku suka.. 😀

  4. wah, kayaknya menarik. secara pencinta thriller. tapi, ini susah nyarinya. nanti tanya penerbitnya ah.

Comments are closed.