Efek Praktek di Masa Pandemi Yang Mengganggu Kehidupan Sosial

Di masa pandemi dokter gigi sempat tidak boleh praktek, aku pun berlibur dari pertengahan bulan Maret hingga Juni. Di bulan Juli, aku mulai praktek lagi. Seneng sih, tapi semenjak praktek aku jadi sering di-complain. 😦

Di-complain dalam hal apa?

Intonasi dan kencangnya suara kalau lagi ngomong, jadi kesannya kayak lagi jengkel dan nyolot gitu. 😦

Awalnya aku gak nyadar, baru nyadar pas di bulan Agustus perawat di klinik Polres ngomong: “Dokter akhir-akhir ini lagi badmood ya? Kok bawaannya ngomel-ngomel mulu?”

Aku sebagai pemilik mood bingung. Karena mood-ku saat itu lagi netral, gak ada kesel-kesel dan jengkel.

Lalu pernah juga ada pasien yang complain kalau aku ngomong kenceng banget. Lalu aku turunin suara, eh, jadinya asistenku gak denger apa yang aku omongin. Setelah itu aku jadi paham apa titik permasalahannya.

Gara-gara masker berlapis-lapis dan faceshield

Praktek di masa pandemi Corona tentu saja berbeda dari sebelum Corona. Pas sebelum Corona, APD untuk area wajah paling cuma masker medis dan kaca mata kerja (aku pakai kacamata biasa tapi yang ukurannya besar).

Sedangkan pas Corona wajib pakai masker N95 (atau respirator) dan faceshield. Berhubung masker N95 ini itungannya mahal, jadinya dilapisi dengan masker medis lagi. Engep? Tentu saja. Yang nyebelin adalah jadi seperti kedap suara.

Selama praktek, dokter gigi itu butuh cuap-cuap untuk menjelaskan ke pasien dan ngasih instruksi ke asisten dokter gigi. Dengan masker berlapis-lapis dan faceshield, seringkali aku ngomong tapi gak kedengeran, jadi butuh diucapkan berulang-ulang.

Makin lama capek juga ngomong berulang-ulang, jadi aku milih untuk mengencangkan suara biar sekali ngomong langsung kedengeran. Tapi ngencengin suara ini butuh usaha banget, setiap ngomong harus tarik napas dulu supaya kuat ngomongnya. Hasilnya emang praktek jadi lancar, tapi setelahnya lelah banget rasanya.

Makin sering dan lama praktek, akhirnya makin terbiasa untuk ngomong dengan nada tinggi. Dan hal ini akhirnya berdampak pada kehidupan sehari-hari, orang-orang ngiranya kalau aku ngomong itu kayak lagi kesel, padahal biasa aja. Dan aku gak nyadar kalau nada suaraku lagi tinggi.

Untuk orang-orang terdekat, seperti Orang Tua dan temen lainnya udah paham kendalaku ini. Jadinya kalau suaraku lagi tinggi dan kayak nyolot bisa diingatkan, soalnya aku gak berasa karena udah terbiasa.

Ternyata dokter gigi yang lain juga punya permasalahan seperti ini…

Kalau lihat IG story temen-temen dokter gigi lainnya, selain pengapnya pakai APD, susahnya bicara juga jadi kendala. Dokter gigi butuh kasih instruksi ke asisten supaya asisten bisa tau apa yang lagi dibutuhkan. Kalau asisten gak denger mulu, tindakan perawatan akan makin lama.

Ada temen yang akhirnya pakai mic dan disambungin ke speaker untuk mengatasi kendala ini. Aku kepikirannya gak disambungin ke speaker, tapi cukup ke asistenku aja, jadi dengan nada bicara normal asistenku bisa denger. Tapi gaptek nih gimana caranya. Aku suka berandai-andai sama asistenku, seandainya kami bisa telepati, haha.

Dokter gigi selain merawat gigi juga harus edukasi ke pasien. Dulu pas di kampus diajarinnya kalau lagi edukasi pasien harus lepas masker untuk menghargai pasiennya, walaupun pasiennya adalah pasien kanker mulut yang baunya ampun-ampunan. Ternyata bicara tanpa masker itu juga berfungsi supaya omongan kita lebih jelas dan didengar pasien.

Hhhhmmm…

Nulis tentang hal ini bikin aku agak sedih.. Di-complain perihal intonasi bicara ngasih aku mental breakdown. Yang udah kenal, insyaa Allah gak masalah karena udah tau aku aslinya seperti apa (malah jadi lucu-lucuan karena tau penyebabnya apa). Yang repot untuk kenalan atau pasien baru, mereka taunya gaya bicaraku seperti ini.

Untuk ke pasien supaya tidak ada konflik, pada pasien yang kira-kira sensitif (seperti pasien Lansia) biasanya aku jelaskan kalau selama praktek kemungkinan aku akan bersuara kencang supaya bisa kedengeran sama asistenku. Dan untuk edukasi pasien, aku pilih lewat Whatsapp atau aku kasih link blog aja (lumayan banget untuk hemat energi dan nambah view, hehe).

Aku seneng praktek dokter gigi tapiii……… 😦

4 thoughts on “Efek Praktek di Masa Pandemi Yang Mengganggu Kehidupan Sosial

  1. Aku juga ngalamin kayak kamu, Nit. Karena skrg kita pada pake masker jadinya ucapan mereka atau ucapan kita sering kurang jelas di telinga.

    Usaha temen kamu yg pake mic disambung ke speaker itu keren lho 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.