Hikmah Al-Kahfi pt.1

Hari ini hari Jum’at gaes, sunnah-nya baca Al-Kahfi. Salah satu hikmah dari membaca Al-Kahfi adalah mendapat cahaya yang menerangi dari Jumat yang satu ke Jumat berikutnya. Cahaya adalah kata yang sering dipakai dalam Islam, hal ini bisa berarti pencerahan, penerangan, membuka hal yang tadinya tidak kita ketahui menjadi kita ketahui.

Jika Allah menyuruh kita membaca suatu surat secara rutin, pasti banyak pelajaran yang terkandung di dalamnya. Di Al-Kahfi banyak pelajaran yang bisa kita ambil, aku mau nulis sebagian kecil saja. Oleh karena itu aku tulis di judul pakai part 1, walau part berikutnya entah kapan, hehehe..

Dari Surat Al-Kahfi yang menurutku paling menarik adalah tentang bertemunya Nabi Musa dan Nabi Khidr. Saat itu Nabu Musa udah pede merasa jadi orang yang paling pintar di muka bumi dan hal itu bukan hal yang salah, namun ternyata masih ada ilmu yang belum dikuasainya. Nabi Khidr di masa itu merupakan orang yang paling mengerti tentang hikmah, Nabi Musa diperintahkan oleh Allah berguru kepadanya untuk melengkapi ilmunya.

Pelajaran pertama: Untuk bisa bersabar harus tahu ilmunya.

Saat Nabi Musa menyatakan ingin berguru kepada Nabi Khidr, awalnya Nabi Khidr menolak dengan alasan Nabi Musa belum tentu bisa bersabar saat mendampinginya. Nabi Musa dengan pede menjawab kalau Beliau adalah orang yang sabar. Lalu Nabi Khidr menjawab:

“Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana engkau akan bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Nabi Khidr

Dari sini kita bisa belajar kalau untuk bisa bersabar bukan sekedar mengaku aja dan merasa diri sudah jadi orang yang bersabar. Tapi untuk bisa bersabar harus tau ilmunya terlebih dahulu. Apa definisi sabar? Apa indikator sabar? Dan seterusnya.

Pelajaran kedua: Apa yang nampak buruk, bisa jadi ada hikmah dibaliknya.

Kalau Nabi Khidr hidup di masa sekarang, udah pasti deh bakal di-judge sama orang-orang. Bayangin aja tiba-tiba beliau menenggelamkan kapal, membunuh anak muda, dan membetulkan rumah orang tanpa diminta (padahal orang di kampung tersebut tidak bersikap ramah). Tapi yang melakukan hal itu bukan sembarang orang, melainkan Nabi Khidr, yang paling paham tentang hikmah.

Tindakan Nabi Khidr yang dianggap aneh dan salah itu ternyata mengandung hikmah yang berarti kebaikan di masa mendatang. Di masa yang kita tidak memiliki ilmu di dalamnya.

Dari poin ini, aku belajar jika aku menemukan sesuatu yang aneh, gak wajar, menyebalkan, jangan langsung kepancing, tetap tenang dan sabar. Sekarang memang tampak buruk, tapi ini adalah bagian dari takdir Allah, pasti akan ada hikmahnya.

Asiknya menerapkan ini adalah kalau ada masalah, aku jadi gak panikan dan santai aja. Tapi orang yang melihat anggapnya aku apatis dan cuek. Hehehe, aku gak secuek itu, masih tetep aku pikirin tapi aku arahkan pikiranku ke hal yang lebih positif dan percaya kalau Takdir Allah adalah yang terbaik.

Masalah di masa sekarang akan menjadi hikmah di masa depan asal kita menghadapinya dengan kesabaran.

Pelajaran ketiga: Tentang Parenting

Di usia sekarang tentu saja aku sudah mulai mikir-mikir kalau punya anak apa yang akan aku lakukan? Pasti aku akan jaga seprotektif mungkin, aku ajarkan kemampuan-kemampuan supaya bisa survive, akan rela kerja dan nabung supaya kehidupan dan pendidikannya terjamin, akan sebal dan marah jika ada yang memperlakukan anakku dengan tidak baik. Tapi tindakan-tindakan ini akan menjamin kehidupan anak kita?

Yang ada, aku sering lihat kasus-kasus di mana orang tua sudah melakukan hal yang terbaik buat anak, menghalalkan berbagai cara supaya anaknya sukses dan sejahtera, tapi tetap aja si anak tidak sukses menjalani hidup. Jadi menurutku kuncinya bukan itu.

Dari salah satu hikmah dalam surat Al-Kahfi aku menyimpulkan salah satu cara paling ampuh untuk menjamin kehidupan anak dan keturunan kita kelak adalah: Berusaha sekuat tenaga untuk bisa menjadi orang yang shaleh.

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu.”

QS. Al-Kahfi: 82.

Di kasus yang muncul di Surat Al-Kahfi, anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya itu sudah hanya tinggal berdua saja, dan dalam lingkungan yang kurang baik. Tapi karena orang tuanya shalih, Allah mengutus Nabi Khidr untuk membetulkan rumahnya supaya kedua anak itu bisa bertahan hidup hingga dewasa.

Jika kita ingin anak kita baik, berkehidupan yang baik, berusahalah jadi orang shalih, nanti Allah yang akan menjaga, dan akan membantu bahkan di saat kita sudah tidak hidup di dunia ini.


Demikianlah tulisan di hari ini, semoga bermanfaat dan semoga akan muncul part 2-nya. Silahkan colek-colek kalau ada masukan atau koreksi kalau ada yang salah. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: