Kisah Burung Puyuh Yang Malang

Suatu hari saat pulang ke rumah, aku disambut suara kicauan burung yang cempreng, ternyata ada burung puyuh. Burung putuh ini tiba-tiba Papa temukan di antara kayu-kayu yang ada di rumah, lalu dibawa masuk ke dalam rumah.

Asal burung puyuh ini ternyata dari tetangga sebelah, mereka beli burung puyuh di pasar dengan harga 10 ribu dapat 20 ekor. Dalam sekejap semuanya mati, hanya satu yang bertahan, yang nyasar ke rumahku.

Burung puyuh pun akhirnya bertambah besar dan wadahnya sudah kekecilan. Aku terlalu medit untuk beli kandang burung, akhirnya aku pakai carrier kucing aja untuk jadi kandang sementaranya. Bisa dilihat di bawah ini…

Ternyata bolongan yang ada di carrier kucing cukup besar, beberapa hari kemudian Piyip (nama si burung puyuh) pun kabur. Tetangga sebelah yang masih belum kapok beli burung puyuh akhirnya ngasih 5 burung puyuh kecil-kecil untuk menggantikan Piyip yang hilang..

Kisah sedih menyayat hati pun di mulai…

Memelihara burung puyuh itu ternyata susah sekali.. Hasil cari info di dunia maya katanya temperatur kandangnya harus 37 derajat, terus gampang banget stress dan mati. Di malam pertama, Papa pasang lampu supaya mereka tetap hangat, pagi-paginya mati dua kemungkinan karena lemes kepanasan.

Sisa tiga..

Lalu tiba-tiba rumah heboh, ternyata ada kucing masuk dan gigit salah satu burung puyuh dan lari keluar. Akhirnya bisa ketangkap dan burung puyuh masih hidup tapi lehernya miring, gak bisa berdiri tegak lagi, beberapa saat kemudian mati.

Sisa dua…

Karena malam-malam udah mulai sering turun hujan, awalnya dilema mau dipasag lampu atau tidak. Lampu yang sekarang ini lebih kecil dan diposisikan jauh dari kandang, tapi tetap saja pas tengah malam satu burung mati..

Sisa satu..

Karena pakai lampu malah menjatuhkan korban, malam itu tidak pakai lampu. Pas pagi-pagi, si burung puyuh masih hidup tapi udah lemes, kali ini karena kedinginan. Harusnya hari itu aku pergi pagi-pagi ke Bekasi, tapi aku tunda karena takut galau kalau burung puyuh ini kenapa-napa. Dari pagi aku genggam si burung puyuh hingga kembali hangat dan berkicau lagi..

Malam itu aku menginap di rumah Bekasi, gak ingin merisaukan keadaan si burung puyuh. Besok sorenya aku pulang ke rumah Cikarang dapat kenyataan kalau burung puyuhnya sudah mati pas siang hari.

Sedih.. 😦

Pas masa perjuangan memelihara burung puyuh ini, aku juga konsultasi sama temen yang kuliahnya jurusan Peternakan, dari ngobrol sama beliau jadi tau kalau prognosisnya memang bakal buruk karena cuaca dan lokasinya kurang cocok. Burung puyuh memang cukup sulit perawatannya, apalagi masih bayi dan langsung stress lewati perjalanan panjang (dari kandang ke pasar, naik mobil sampai rumah tetangga, pindah ke rumahku).

Entah si tetangga masih hobi beli burung puyuh apa tidak, yang pasti aku udah ultimatum Papa untuk jangan nerima kalau ditawarin burung puyuh lagi! Mendingan melihara kucing aja..

3 thoughts on “Kisah Burung Puyuh Yang Malang”

  1. Turut berduka cita ya sama nasib malang burung puyuhnya. Emg tricky bgt sih melihara binatang itu, kagum bgt sm yg seenggaknya mau melihara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.