Skip to content
Advertisements

LIFE: Serunya 2018!

2018 itu campur aduk. Kalau lihat teman-teman yang merekapitulasi tahun 2018 di social media, kelihatannya pada puas tentang tahun lalu. Di sisi lain, Indonesia lagi banyak bencana. Ya tidak perlu sawang sinawang.

Di sisiku, tahun 2018 merupakan tahun yang bisa kuingat dengan manis. Secara eksternal tidak ada progress yang signifikan. Aku lebih merasa berkembang secara internal, apa saja?

Nerima diri sendiri baik secara karakter dan fisik.

Manusia itu pasti akan berubah, aku pun begitu.

Beberapa tahun yang lalu muncul masalah yang harusnya mendewasakan, deep thinking jadi makanan sehari-hari. Aku berubah jadi serius dan gloomy, susaaah banget untuk bisa jadi sosok yang ceria lagi.

Hampir semua orang bilang kalau aku harus bisa ngilangin gloomy-ku dan bahagia. Kamu tau, semakin berusaha justru semakin susah untuk mencapainya. Lalu ada satu orang yang bilang memang gak perlu jago untuk bisa ceria, ya sudah terima apa adanya aja. Dan memang gak perlu jago.

Aku dan pengalamanku bentuk aku jadi karakter yang dulu. Aku dan pengalamanku juga bentuk aku jadi karakterku yang sekarang. Gak ada yang lebih baik atau buruk. Berpikir seperti itu bikin aku jadi enteng.

Lalu secara fisik…

Untuk secara fisik, uhhhm, bagiku susah banget. Aku sebenernya gak ngerti kenapa orang-orang banyak yang fokus ke fisik lalu nyuruh aku untuk merubah ini dan itu.

Badanku kecil, tulangku kecil. Pas masih SD badanku memang udah kayak lidi, tinggi kecil. Pas SMP aku berusaha gemukin badanku, caranya dengan banyak ngemil. Kebetulan waktu itu Om dan Tanteku banyak yang nikah jadi makanan melimpah, aku lalu jadi gemuk, eh malah dikatain kayak pembantu. Yang ngatain keluarga sendiri, katanya di keluarga itu gak ada yang gendut, yang gendut cuma pembantu. Lalu aku kembali berusaha kurus.

Gak susah sih untuk kurus, karena dokter gigi itu kerja fisik, jadi energi cepat terkurasnya. Lalu kalau capek, aku lebih memilih tidur walaupun masih lapar. Jadi ya susah sekali untuk gemuk. Sekarang aku udah gak ambil pusing dikatain kurus. Ya sudah, tulangku memang kecil dan aktivitasku padat. Alhamdulillah aku sehat.

Itu secara tubuh, untuk urusan wajah jugaa tak lepas dari kritikan. Terlalu tirus, banyak masalah katanya, dan didikte untuk dandan seperti ini dan itu

Menurutku makeup itu personal, kita pakai makeup atau tidak ya suka-suka kita. Aku sempet sering ngegrundel di dalam dada saat disuruh dandan seperti orang lain, karena orang lain terlihat atraktif dengan dandanan itu.

Contohnya seperti ini: Jaman sekarang itu orang-orang matanya pada tajam karena alis yang pekat dan eyeliner di mata, Nita akan kebanting jika gak pakai hal yang sama, jadi Nita harus pakai seperti itu juga. Grrr…

Aku emosi. Haha..

Menurutku tiap orang punya karakter wajah masing-masing dan semuanya cantik karena yang nyiptain itu Allah lho, bukan amatiran. Untuk dandanan ya harus bisa dapat yang paling nyaman dan sesuai dengan bentuk muka. Bukan karena semua orang pakai itu.

Di akhir 2018 aku merasa nyaman dengan karakter dan tampilan fisikku. Pedeku lumayan naik. Gak perlu pakai makeup gimana-gimana aku sudah cantik kok, tapi hatimu harus cantik dulu untuk bisa melihat kencantikanku. Tsaah.

I have someone to talk to (finally)

Karena suka deep thinking, di kepala itu suka banyak pikiran-pikiran yang rasanya akan mengganjal kalau tidak dikeluarkan. Ada kalanya pikiran-pikiran itu cukup dengan dituliskan sendiri seperti di diary, ada kalanya dituliskan di blog memadai, lalu sampai pada akhirnya dua hal itu gak cukup dan aku butuh orang yang tepat untuk bicara.

Aku akhirnya sering ngobrol banyak dengan beberapa orang, ya tapi susah banget sampai berasa plong, aku tetep ngerasa butuh seseorang untuk diajak bicara. Padahal udah bicara terus.

Seseorang itu bukan yang siap dengerin ocehanku sehari semalam, karena sudah pernah ada yang bisa begini tapi tetap tidak bikin hati terisi. Bukan juga orang yang tahan dengar rengekanku atau bisa memberikan kata-kata manis, karena ada juga yang bisa begini tapi justru bikin aku cepat bosan.

Haha, kebetulan hari ini aku bertemu dengan keluarga mantanku lalu teringat, salah satu hal yang bikin aku akhirnya memutuskan udahan karena sama dia aku tetap merasa kosong. Bahasanya di saat itu: dia tidak bisa menjadi wadah yang cukup untukku.

Ada seseorang yang bisa diajak ngobrol yang tektoknya asik, gak perlu banyak kata-kata tapi udah dapat apa maksudnya, bisa ngobrolin berbagai macam topik (khususnya ide-ide!) itu seru banget. Ngobrol itu bukan sekedar untuk mengisi waktu luang, harus ada isinya, harus bisa saling input dan memperkaya masing-masing individu, bikin pengen belajar lebih, munculin ide-ide baru, dan melihat hasilnya.

Tiga hal di atas bikin 2018-ku jadi nyenengin. Beberapa ide tereksekusi, bentuknya memang gak 100% seperti ideku karena harus adaptasi dengan keadaan di lapangan kan? Dan itu memang serunya beride!

2018 seseru itu, gimana nanti 2019?

Post curcol: Someone to talk to..

Advertisements

2 Comments »

  1. aku selalu merasa kalo dokter gigi itu kerja otak
    karena kan pasiennya tinggal duduk dan tangan dokter yang ngutak-atik gigi
    yang kek gitu ternyata melelahkan ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: