Hidup perubahannya pesat banget. Saking pesatnya, seharian ini aku memilih untuk benar-benar slow, nggak mau mikir macem-macem. Eh, mikir sih, agak mikir tentang timeline hidup beberapa tahun ke belakang.
Kehidupan yang tadinya sudah mulai familier, lalu tiba-tiba berubah drastis. Peraturan baru, target baru, sistem kerja baru, dan disrupsi baru. Membuat aku harus cepat memilih rencana baru karena rencana lama tiba-tiba sudah tidak masuk akal lagi. Di satu sisi, hidup jadi lebih seru sih karena pintu-pintu terbuka. Tapi di sisi lain kok rasanya capek banget ya kejar-kejaran mulu.
Kenapa sih?
Ini pertanyaan yang sering banget muncul di kepalaku: kenapa harus selalu ada improvement?
Karena kalau begini-begini aja, hidup akan sangat membosankan. Padahal hal yang membuat orang bahagia adalah memiliki improvement dalam hidup, karena bahasa lainnya kebahagiaan adalah human flourishing (konsep Eudaimonia-nya Aristoteles): manusia berkembang, hingga akhirnya mencapai puncak dari Piramida Kebutuhan Manusia-nya Abraham Maslow yaitu Aktualisasi Diri.
Duh, Kenapa sih?
Inginnya bisa hidup santai, selalu berada dalam comfort zone, tapi nggak bisa begitu.
Di tahun 2016 aku sempat ikut course edX yang berjudul ‘The Science of Happiness“, dari sini aku paham apa sih yang sebenarnya menimbulkan kebahagiaan untuk manusia (berdasarkan science tentunya). Ya dari situ akhirnya aku selalu mencari apa titik yang bisa dikembangkan saat ini.
Aku gak bisa 100% keluar dari zona nyaman, jadi aku butuh dua sisi. Sisi aman dan sisi eksplorasi. Biasanya sisi aman adalah mengenai pekerjaan, dan sisi eksplorasi adalah hobi atau kegiatan di luar pekerjaan seperti blogging, belajar thibbun nabawi, bergabung dalam komunitas, ikut olah raga baru, dan sebagainya. Sebelum menikah alokasi waktunya relatif mudah karena aku hanya bekerja beberapa jam dalam sehari.
Hampir 5 tahun ini kehidupanku berubah drastis. Pekerjaanku full day, Sabtu pun masih bekerja. Aku sudah tidak leluasa eksplorasi dunia luar karena di rumah pun ada yang harus dipikirkan dan diperhatikan, jadi aku harus membuat sisi eksplorasi adalah di pekerjaan.
Ah, tapi kenapa sih?
Pekerjaan inti saja sudah berat masih mau eksplorasi-eksplorasi. Apakah akan worth it? Atau bikin capek saja? Tapi kalau gak dikerjain ya bakal begini-begini saja dan membosankan. Hffft.
